Velkommen til Oslo

March 9th, 2009 by syafa

Saya mendapat kesempatan menjadi salah satu peserta internasional guest student di Universitetet i Oslo (UiO) untuk musim semi 2009 ini. Mengikuti kelas bertema demokrasi di negara-negara Scandinavia dan akan berlangsung selama kurang lebih 4 bulan di Oslo, Norwegia. Negara kaya minyak yang banyak dihindari orang (termasuk para bule yang memuja matahari sebagai dewa) karena dinginnya yang sering ekstrim.

Saya berangkat minggu ketiga februari lalu. Banyak persiapan teknis yang harus dilakukan. Yang paling berat dari semua itu adalah saat harus melakukan pengepakan. Ada dua packing yang harus dilakukan.

Pertama, packing pindahan dari rumah kos saya selama ini di Jl. Surabaya kembali pulang ke rumah orang tua saya di Kp. Rambutan. Pengerjaan yang membuat saya malas luar biasa. Mengingat barang-barang yang harus dipindahkan begitu banyaknya. Butuh satu minggu untuk berkemas.

Dalam keletihan pengemasan itu saya sempat dipusingkan dengan timbunan kantong plastik (baik berbentuk kresek atau kantong kertas yang lumayan bagus) bekas belanjaan saya. Beragam ukuran dan merek. Kebanyakan dari supermarket tempat saya biasa belanja bulanan (saya sempat menemui logo supermarket yang sudah tidak beroperasi lagi). Urusan kantong plastik yang bisa kita dapat dengan mudah saat berbelanja di Jakarta (atau Indonesia) ini nyatanya menjadi lain saat saya tinggal di Oslo kemudian.

Menit terakhir saya mendapat ide untuk membuat kategori kantong-kantong itu berdasarkan ukurannya. Dari yang S untuk ukuran 1-2 liter, M untuk ukuran 3-5 liter, l untuk ukuran 7-9 liter dan XL yang paling besar. Beberapa kantong yang bagus (terbuat dari kertas atau plastic tebal) saya kumpulkan terpisah. Semua kantong-kantong itu lalu saya serahkan pada ibu saya. Terserah dia akan diapakan nanti.

Pengepakan kedua yang tak kalah memusingkan adalah packing untuk kebutuhan hidup saya selama di Oslo. Saya sudah merencanakan akan membawa dua koper. Koper pertama untuk khusus untuk pakaian saya (saya banyak diingatkan untuk membawa baju hangat dan long john, pakaian melekat tubuh yang berfungsi sebagai lapis kedua underware) dan koper lainnya untuk beberapa bahan makanan saya.

Saya sudah membuat daftar. Kepusingan menghantam saat tau penumpang hanya diperbolehkan membawa maksimal 20 kg bagasi saja (dan KLM, si paus biru yang akan menerbangkan saya nanti dikenal tegas (atau pelit?) dalam soal kelebihan bagasi).

Alamak! Bagaimana mungkin? Koper isi pakaian saya juga sudah hampir 20 kilo. Lalu makanan-makanan ini?

Saya putuskan untuk bertahan dengan daftar bagasi saya. Saya tidak punya energy lagi untuk menyortirnya. Semuanya penting buat saya. Baju-baju hangat itu. Juga makanan-makanan itu. Saya tidak mau berjudi soal belanja di sana nanti.

***
Saya sempat merasa tenang saat bertanya pada petugas bandara berapa biaya over bagasi. Saya merasa masih mampu membayarnya. Ketenangan yang bersifat sangat-sangat semu. Karena nyatanya biaya yang harus saya bayar jauh melampaui dari informasi awal yang saya terima. Belum lagi insiden bongkar pasang bagasi yang cukup menguras emosi dan energi saya. Tapi sudahlah. Saya terikat janji untuk off the record urusan over bagasi ini.

Saya juga sempat merasa gemas saat tak mendapat tempat duduk barisan jendela. Tempat favorit yang selalu saya pesan kemanapun saya terbang karena saya dapat memaksimalkan fungsi kamera saya. Dan panorama lautan salju yang seharusnya bisa diabadikan menjelang pesawat mendarat di landasan akhirnya harus saya ikhlaskan untuk dilewatkan.

***
Saya membayangkan persis seperti ikan atau daging yang harus didiamkan di freezer dengan suhu maksimum agar tetap segar. Seperti itulah hari-hari saya selama di Oslo. Lautan es dimana-mana. Orang bahkan berselancar di danau yang telah padat menjadi daratan es dan tak mampu lagi menandakan manakah danau atau daratan. Banyak yang mengatakan Maret ini harusnya telah masuk musim semi namun nyatanya salju masih rajin turun. (Saya sempat tak habis pikir, orang kok bisa ya hidup di negara beku begini. Sialannya, kaya pula ;-P)

Hari-hari saya lalui dengan pendarahan di hidung. Tak parah (saya sempat menyaksikan perempuan bule dengan darah mengucur deras dari hidungnya). Juga batuk yang kadang mengulik kerongkongan saya. Dan bersyukur pada pertahanan bahan makanan yang saya bawa. Nyatanya belanja di sini juga cukup memusingkan. Selain harga yang pasti bikin pusing juga soal bahasa. Hampir dapat dipastikan semua makanan itu menggunakan bahasa norwegia pada labelnya.

Beberapa kerepotan yang pada akhirnya menjadi kebiasaan yang harus saya jalani di pembeku raksasa ini diantaranya:

1. Perlengkapan pakaian. Sekedar untuk mengunjungi teman yang berbeda blok tinggalnya atau membuang sampai dipekarangan harus mengenakan semua perlengkapan ini; jaket, penutup kepala (terutama telinga), sarung tangan, dan sepatu. Saya sempat merindukan hari-hari dimana bisa keluar rumah hanya dengan bersandal atau kaus melekat di badan.

Meski begitu, bukan berarti tak bisa bergaya. Saat nongkrong di seputaran kota yang dipenuhi dengan bangunan kuno dan mal-mal, ada peragaan busana musim dingin gratis yang bisa disaksikan dari orang-orang yang berlalu lalang. Juga di kampus. Jaket dan sarung tangan saja bisa beragam modisnya.

Saya terutama naksir berat pada sepatu-sepatu yang dikenakan (masalah yang langsung menghantam hari-hari pertama saya karena dua sepatu yang saya bawa dari Jakarta sungguh tidak apa-apanya. Saya sudah merencanakan untuk bercerita secara khusus pada sesi lain). Utamanya boot. Tampak kuat dan gaya.

2. Minum air keran. Kebiasaan yang sempat terasa aneh. Saat transit di Belanda saya sempat bertanya pada petugas dimana bisa mendapatkan air minum karena saya tak menjumpai kran khusus minum seperti yang bisa dengan mudah kita jumpai di bandara Singapura.
Petugas itu mengatakan, “anda bisa minum semua air keran di sini”.
Dan.. air keran itu adanya di toilet. Sempat merasa jijik namun lama-lama terbiasa juga.

Sekarang saya cuek saja masuk ke toilet membawa botol minuman kosong dan mengisinya dengan air keran sebagai bekal. Meski beberapa toilet di Oslo tidak bisa dimasuki dengan gratis (tak beda dengan Jakarta lah ;-))

3. Perkara membersihkan diri setelah buang air (kecil atau besar) dengan tissue.
Hampir dapat dipastikan tidak ada toilet yang menyediakan selang shower untuk berbilas. Termasuk di asrama tempat saya tinggal. Perkara yang membuat tak habis pikir. Berapa banyak tissue harus dihabiskan hanya untuk perkara cebok?

***
Sebagai negara welfare state yang dimakmurkan oleh minyak dengan pendapatan penghasilan penduduk yang tinggi membuat biaya hidup di Oslo disebut-sebut menjadi yang termahal di dunia setelah Tokyo. Harga kartu perdana local saya mengingatkan saya pada harga kartu perdana di Indonesia tahun 90-an. Mahal. Dengan isi pulsa yang cuma seperempat dari harga pembeliannya. Belum lagi harga makanan yang kalau di bandingkan atau di hitung dengan kurs di Indonesia cuma bikin sakit hati ;-p

Di luar itu, kemandirian warga negaranya juga sangat ditekankan. Salah satu professor saya mulai mengajarkan pelajaran pertama dengan membawa piring bekas makanannya ke bagian pembersihan piring, membuang sampahnya bila ada, dan mengelompokan alat-alat makan sesuai dengan jenisnya untuk kemudian dibersihkan. Anda dituntut bertanggung jawab dengan perbuatan anda sendiri.

Saat berbelanja di supermarket juga tak banyak pelayan tersedia. Paling-paling hanya kasir yang bertugas menyorot label barang yang anda beli. Beberapa malah menyorot label belanjaannya sendiri, menggesek kartu kredit atau memasukkan koin pada box yang tersedia dan menunggu krincingan kembalian bila ada, lalu mengatur sendiri barang-barang yang dibeli pada plastik yang sebelumnya juga akan ditanya terlebih dahulu, “Need a bag?”
Beberapa toko juga men-charge harga plastic yang akan digunakan sebagai tas belanjaan anda.

Semua tampak mandiri dan tersistemisasi.

Salah satu aturan dalam penyewaan kamar saya misalnya. Meski anda membayar sewa kamar (yang cukup mahal belum lagi hitungan terhadap konsumsi listrik dan pemanas), masalah kebersihan sepenuhnya menjadi tanggung jawab anda. Juga terhadap peralatan yang harus dipenuhi sendiri.

Kalau mau selebor bisa saja. Namun bersiap lah terhadap pemeriksaan yang kalau kebetulan menangkap ruangan sewa anda (terutama dapur) yang bersampah, anda akan disewakan seorang pembersih yang biayanya harus anda tanggung dan tidak murah tentunya.

Sama halnya bila anda sedang sial dengan tingkah alarm kebakaran yang sangat sensitive di kamar anda. Begitu ia meraung dengan beragam alasan (seringkali karena asap rokok di kamar) bersiaplah untuk membayar petugas pemadam kebakaran (yang meskipun hanya datang untuk mematikan alarm sialan) harganya hampir sama dengan jatah beasiswa saya selama tinggal di Oslo.

Atau dalam hal penggunaan transportasi publik yang terdiri dari subway (kereta bawah tanah), trem (KRL dengan hanya dua gerbong) dan bus. Tidak ada petugas loket. Tiket dapat dibeli ditoko atau lewat mesin. Anda masukan uang. Pencet beberapa tombol dan tiket akan keluar.

Kejujuran anda akan diuji lewat kemauan anda memasukkan tiket pada mesin tertentu yang akan menandai bahwa tiket sudah terpakai. Tidak ada petugas. Dan anda lagi-lagi bisa saja selebor. Namun kalau lagi sial tertangkap pemeriksaan yang dilakukan secara random ya bersiap saja menjadi bangkrut oleh denda yang dikenakan.

Kawan saya menyebut istilah “high trust society” untuk hal ini. Kejujuran dan tanggung jawab bukan lagi norma dan nilai (agama atau ideology) yang diajarkan hingga berbusa di sekolah namun terbawa angin begitu selesai pelajaran. Ia menjadi bagian dari keseharian. Anda lupa meninggalkan barang, insyaallah ia akan aman-aman saja. Orang tampak tak berniat memiliki yang bukan haknya.

Selain itu, penempatan posisi warga sipil yang tinggi juga tampak dari casualnya beberapa petugas yang kalau di Jakarta pasti sudah ingin tampil perlente dengan seragam. Petugas bank (beberapa diantara mereka hanya mengenakan kaus dan celana pendek). Juga pemeriksa tiket yang kebetulan saya temui pada sebuah subway. Tidak berseragam bahkan gaya pakaiannya seperti baru dari mal. Modis.

Saya sampai penasaran ingin lihat yang namanya polisi seperti apa. Karena bahkan saat saya datang ke kantor kepolisian untuk mengurus ijin tinggal, tak ada petugas berseragam. Semua dilayani petugas yang tampak seperti (atau memang) warga sipil. Berbusana dan bergaya kasual. Dan semua urusan beres dalam hitungan menit. Sangat profesional.

Untuk urusan yang terakhir ini, saya hanya mampu membayangkan, kapan negara saya bisa seperti ini ya? ;-)

Bangsa Pengemis (?)

January 29th, 2009 by syafa
Di tengah kepungan asap bakaran hio yang mampu bikin mata menangis bombay dalam hitungan detik itu saya menyaksikan pemandangan kolosal yang memasygulkan hati.

Di altar pintu masuk menuju Klenteng Dharma Bakti Petak Sembilan Jakarta yang kesohor diantara para juru bidik kamera. Menggeletak ribuan pengemis dari semua tingkatan usia. Laki-laki. Perempuan. Mulai dari yang jompo dengan kulit penuh kerutan sampai bayi yang sibuk menetek pada susu ibunya. Bahkan yang masih dalam perut dengan hitungan minggu atau bahkan hari menunggu antrian untuk eksis dan narsis di dunia yang katanya fana ini.

Ini malam hari raya bagi warga keturunan Tionghoa. Dan banyak orang (baik yang berprofesi sebagai pengemis professional maupun yang merasa hidupnya jauh dari kecukupan) berharap mendapatkan ciptakan rejeki dari para dermawan yang tengah bersuka cita merayakannya.

Dari mana antrian ini berasal?

“Macam-macam, Mbak. Tangerang. Bekasi. Dari jauh-jauh juga ada,” jawab salah satu anggota satuan pengaman yang malam itu sibuk berjaga. Baik yang resmi (polisi betulan) atau yang setengah resmi (petugas trantib atau satuan pengamanan swakarsa)

Sudah berapa lama mereka mengantri?

“Tiga hari, Mbak. Mana belum makan nih,” jawab seorang ibu dengan pakaian lusuh yang coba menepi dari kelompok antrian.

Tidur dimana?

“Ya di sini. Kadang gentian sama anak saya.”

Saya (anehnya) tidak mampu lagi trenyuh. Mungkin karena pada dasarnya saya pelit (eniwei, saya paling sebal dengan gangguan yang sering datang saat tengah asik menikmati makan di emper jalan).

Saya bahkan merasa marah. Bagaimana mungkin mereka mau merendahkan diri sendiri dengan hanya menunggu belas kasihan orang lain tanpa melakukan pekerjaan apa pun?

Memangnya antrian ini akan dapat berapa?

“Wah, kalau sekarang sih gak tau. Tahun kemarin itu kayaknya karena dengar pada dapet 100 ribu seorang plus sembako makanya sekarang mbludak kayak gini,” jawab petugas yang merapat menjaga penghitung uang hasil sumbangan pengunjung klenteng yang datang bersembahyang.

Kapan uang akan dibagikan?

“Gak tau juga. Belum berani sekarang. Masih kurang. Bisa kacau,” jawab sang pengumpul uang sambil sibuk menghitung uang ribuan dan recehan di dalam baskom

***
Pukul 11 malam. Pengunjung bertambah ramai. Suasana makin panas. Asap bakaran hio terus membumbung. Mengantar doa para pengunjung sampai ke nirwana.

Juru bidik (dengan segala type dan merek dagang perlengapan. Juga kewarganegaraan) hilir mudik. Saya sempat sibuk mengamati seorang warga negara asing yang asik memotret rupa-rupa para pengemis.

Apa ya yang ada dalam pikirannya? Batin saya terhadap si bule yang asik memotret dengan flash terpisah dari body kamera (omong-omong, saya sempat penasaran dengan flash unik ini. Ia menggunakan tangan kanannya untuk menggenggam body kamera. Sementara tangan kirinya sibuk menggenggam flash nirkabel seperti botol obor).

Sebuah spot unik yang tak kan didapat di negaranya? Apa pendapatnya soal pengemis-pengemis ini? Pertanyaan-pertanyaan yang hanya saya simpan dalam pikiran saya. Menambah kemasygulan saya.

Siapa yang harus bertanggung jawab terhadap kehidupan para pengemis ini? Negara yang juga hanya bisa berhutang meminta-minta pada negara lain dan melimpahkan tanggung jawab pembayarannya (beserta bunga-bunganya) kepada rakyatnya?

“Pak! Pak! sumbangannya taro di sini aja. Pasti kita salurkan. Jangan di kasih langsung. Bisa rame!” Seruan petugas pengumpul uang membuyarkan lamunan saya.

Yang diseru tampak tak mengacuhkan imbauan petugas. Berlalu dengan uang di kepalan tangan.

Benar saja. Begitu ia menyorongkan tangan pada antrian, kerusuhan terjadi. Kerumunan pecah berebut uang yang melayang. Persis seperti saat kita melempar makan pada ikan peliharaan di kolam. Tubuh bertindihan. Teriakan makian melengking tak terkendali. Menciptakan sebuah situasi empuk bagi petugas keamanan yang langsung sigap melerai.

“Duit goceng aja direbutin. Pada dapet apa sih lu? Bagi rata aja seribu-seribu. Sama temen sendiri juga!” Hardik petugas yang tampak sudah memendam amarah berhari-hari.

Kerusuhan kecil diantara para pengantri kerap terjadi. Beberapa menit sebelumnya terjadi pertengkaran antar para ibu yang tak terima anaknya yang tergeletak tidur terlangkahi kaki pengantri lainnya. Rasa letih dan lapar pastilah sudah mengalahkan akal sehat.

“Memangnya sudah dapat uang berapa?” Saya ikut tak sabar.

“Ini hampir tujuh juta. Antriannya lebih dari tiga ribu. Terakhir malah enam ribu katanya.” Sang pengumpul uang masih sibuk menghitung uang ribuan.

Terus bagaimana pembagiannya nanti?

“Paling-paling dapat seribu-seribu nanti. Mau gimana lagi? Kalau ada lebihan dibagi lagi.” Sang pengumpul uang tampak cemas. “Ini lagi krismon. Yang nyumbang sedikit. Yang antri tambah banyak.”

Ya. Ini memang sedang krismon. Tak banyak hiasan lampion yang menggantung di sepanjang jalan petak sembilan. Sepelit curah hujan untuk imlek tahun ini. Penanda yang kerap dipercaya sebagai tahun sulit.

Memangnya cuma dari sumbangan orang-orang ini aja ya. Gak ada dari klenteng? Saya penasaran mencari tau.

“Gak ada. Memang begitu. Klenteng juga hasil dari sumbangan. Berapa yang didapat itu yang di kasih. Kita gak dapat apa-apa.”

Uang seribu. Antrian tiga hari. Saya tak mampu lagi merasionalisasi. Teringat pada regangan nyawa yang melayang sia-sia pada antrian di Pasuruan. Demi mendapat sedekah tak lebih dari dua puluh ribu rupiah. Peristiwa yang tak juga menjadi pembelajaran. Akan selalu ada antrian yang membludak sejenak kabar akan ada pembagian beredar. Tak peduli berapa besar yang akan didapat nanti.

***

Bagaimana kau gambarkan negeri carut-marut ini?

“Ini negara dengan mental pengemis. Kemiskinan jadi komoditas.” Cetus saya pada obrolan sambil menunggu menu pengganjal perut malam itu terhidang.

“Ya. Mental pengemis. Mereka bahkan membawa anak-anak mereka. Menurunkan didikan mengemis pada generasi dibawahnya.” Emil, teman jalan saya malam itu menimpali. Dengan pandangan menerawang pada antrian yang terus membludak hingga luar pagar klenteng. Berhimpitan dengan jejeran mobil-mobil besar stasiun tivi yang meliput siaran imlek dari tempat ini.

Saya tercenung dengan jawaban Emil. Ya. Mereka bahkan tampak tanpa rasa malu mengajak seluruh anggota keluarga untuk mengantri. Berharap mendapat lipatan lebih dari jumlah yang akan diterima bila hanya mengantri seorang diri.

Mengkontraskan ingatan saya pada jawaban Pramoedya Ananta Toer atas pertanyaan menggelitik yang dilontarkan Rahzen sang pemandu acara. Dalam diskusi merayakan tujuh puluh tahun usianya.

“Pak Pram pernah berdoa?”

Pram banyak dikenal sebagai bagian dari komunis yang tak beragama.

“Sejak kecil saya diajar oleh ibu saya untuk tidak meminta-minta. Termasuk pada tuhan. Hidup jangan cengeng. Usahakan dengan tanganmu sendiri!”

Jawaban keras yang kerap teringang dalam benak saya. Menggedor rasa manja yang kerap bersarang.

Juga pada salah satu bagian dari autobiografi yang tulis Daoed Yoesoef tentang ibunya. Si Emak yang memiliki pengaruh penting bagi kehidupannya. Perempuan sederhana yang berjiwa kuat itu digambarkan sangat membenci pengemis. Apa pun bentuknya. Menurutnya, manusia diciptakan untuk bekerja. Sekeras apapun hidup pasti jalan untuk berusaha. Dan bukan dengan jalan meminta-minta. Mengharap belah kasihan orang lain.

Saya perhatikan lagi lautan pengemis itu. Dan ini bukan lautan satu-satunya. Klenteng-klenteng lain memiliki lautannya masing-masing. Sudah tidak adakah jalan bagi mereka untuk hidup kecuali dengan mengharap belas kasihan orang lain? Termasuk pada negara yang masih sibuk mengurus hajatnya sendiri?

Saya ingat acara Kick Andy yang menampilkan para taipan sukses negeri ini.

“Kita miskin jiwa entrepreneurship. Pendidikannya juga. Sehingga miskin ide-ide kreatif. Orang dianggap pintar bila sudah makan bangku sekolahan,” ucap salah satu dari mereka (saya lupa persisnya siapa) saat ditanya salah satu nilai minus negara ini. Yang lebih banyak menciptakan kelas pekerja ketimbang kelas pemimpin. Mental khas negara post kolonialis.

Mungkin ada benarnya juga. Saya sendiri sering merasa miskin ide. Hanya bermental buruh. Kerap memelihara rasa malas dan merasa nyaman-nyaman saja dengan situasi yang ada. Mudah putus asa dan merasa tak ada jalan lain saat aral menerjang.

Ada berapa banyak orang seperti saya? Atau sebaliknya?

Saya pulang lewat tengah malam dengan letusan kembang api menyambar-nyambar di atas kepala. Sementara angpao belum juga dibagikan.

Lewat berita esok harinya saya tau, antrian terpaksa dibubarkan keesokan harinya. Di tengah rinai hujan dan uang seribu di masing-masing genggaman.

*Dari acara mendadak hunting bersama Emilia Susiati di Klenteng Dharma Bakti, Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat, 25 Januari 2009.

Mengejar Senja

August 1st, 2008 by syafa

Di_ujung_senja_2_2

 

Ada rasa haru yang tiba-tiba menyergap saat taksi bandara yang aku tumpangi melewati beberapa landmark yang mengingatkanku pada kisah jarak jauh yang sempat ku jalani dengan seorang laki-laki asal seberang saat ia tengah mengambil studi di kota ini.  

Pulang ke kota mu, ada setangkup haru dalam rindu…

 

 

Sebelum aku memutuskan mengambil perjalanan ini seorang diri, telah kusiapkan mental untuk tak lagi menanggapi romantisme usang itu. Pasca perpisahan kami yang tak berakhir dengan baik aku sudah beberapa kali mengunjungi kota ini. Dan perasaan termehek-mehek itu terbukti mampu aku redam. Mungkin karena beberapa kunjungan itu berlangsung sangat singkat. Kerap aku datang pagi lalu segera kembali terbang petang harinya. Mungkin juga karena aku tak berangkat sendiri. Hingga tak sempat menanggapi rasa manja pada kenangan masa lalu.     

 

 

Ini kali aku datang demi menutup serangkaian acara prosedural seleksi penerima beasiswa studi lanjutan di UGM yang terus aku tunda pemenuhannya. Aku sempat berhitung untuk tak terlalu menghambur uang demi pemenuhan acara ini. Telah hampir satu juta uang kuhabiskan demi membayar biaya pendaftaran, tes TOEFL yang sejak awal dan akhir terus aku umpat baik dalam proses dan hasilnya, serta tambahan biaya administrasi tiket keberangkatan yang semula bisa kuharap bisa didapatkan secara gratis dari Garuda (dengan sejumlah poin yang cukup untuk mendapatkan tiket Jakarta-jogja, aku masih dikenakan biaya pembelian minyak dan pajak yang harganya melebihi sebuah tiket kereta api eksekutif dalam peak season sekalipun).

 

 

Meski aku juga tak ingin berlaku seperti seorang businessman yang harus tergesa meninggalkan kota ini. Aku ingin memenuhi klangenanku pada kota ini.

 

Walau kini kau tlah tiada, tak kembali,
namun kota mu hadirkan senyum mu abadi

 

Ijinkanlah aku untuk selalu pulang lagi,
bila hati mulai sepi tanpa terobati…

***

 

 

Aku hubungi beberapa teman yang ku kenal demi mendapat tumpangan penginapan. Ada Fahri, laki-laki jangkung yang aku kenal lewat kelas Jurnalisme Sastrawi Pantau, tiga tahun silam. Evi, perempuan asal Ponorogo yang aku kenal lewat sebuah acara lomba penulisan yang diselenggarakan oleh CRCS UGM empat tahun silam (sebelum ini, aku sempat beberapa kali menginap di kos-nya saat statusnya belum berubah lewat beberapa kabar singkat yang mengabarkan ia menikah dan tengah berbadan dua). Juga Jaya Ginting, laki-laki Batak yang tampak memilih meniti karir pasca studi lanjutannya di kota ini. Aku mengenalnya lewat hubungan pertemanan tetangga kos ku di Menteng saat ini.

 

Kontak intensku kemudian lebih berfokus pada Fahri.

Karena saat ku layangkan pesan singkat pada nomor Evi, sebuah balasan dari nomor lain muncul.

 

 

Maaf ini siapa ya? Nomor yang dihub barusan milik konsumen yang lagi servis hp lupa gak diambil. Makasih. Dealer Samsung.

 

 

Juga Jaya Ginting, kalau malam ini ok, besok aku ke Jakarta.

 

Maka aku janji bertemu dengan Fahri setiba ku di landasan kota ini. Di perempatan jalan MM UGM yang diaku Fahri dekat dengan kosnya.

 

Sebenarnya binun nih, ntar lu ditaro dimana ya? Tapi ketemu aja dulu. Nanti kabari kalau dah sampe ya?

 

Tulis Fahri saat aku masih menunggu pesawat di Jakarta.

 

Oks, ketemuan aja dulu. Tempat bisa dicari nanti. Begitu liat gue nantu lu juga langsung dapat ide, balasku

 

***

“Perempatannya arah mana, mbak?” tanya supir taksi membuyarkan lamunanku. Memutus syair Katon yang mengendap di kepala.

 

…Terhanyut aku akan nostalgia, saat kita sering luangkan waktu

 

Nikmati bersama suasana Jogja… 

 

 

Shit! Meski telah beberapa kali menyambangi kota ini, tak jua ku hafal jalan-jalan yang melingkar di kota ini. Aku terus mengumpat dalam hati. Betapa cinta telah begitu membutakan mata dan hatiku hingga kubiarkan laki-laki seberang itu yang kerap menyetir dan mengarahkan ku saat kami kencan di kota ini.

“Turun aja di perempatan. Itu Jalan Kaliurang km 4. Nanti gue jemput di situ,” balas Fahri saat aku panik menelponnya.

 

Ku tunggu kedatangan Fahri di perempatan, seberang toko dan lab Fuji Film yang berpendar dengan cahaya neon. Sekelompok muda mudi mengurumi gerobak penjual gorengan.

Here I am. In Jogja with loveless…

 

 

II

Kos-kosan itu berbentuk bangunan bertingkat berbentuk L berkotak-kotak dengan kamar tidur yang dibatasi sebuah pintu dan jendela dan sebuah kamar mandi pada setiap sudutnya.

Ini bukan bangunan kos-kosan satu-satunya. Letaknya yang berdekatan dengan kampus membuat daerah ini menjadi lahan subur bagi hunian para mahasiswa dan kaum perantauan yang masih ingin merasakan aura kemahasiswaannya. Dari lantai dua beranda kamar Fahri aku melihat beberapa bangunan bertingkat lain dengan kotak dan bentuk kamar yang beragam.

 

Persaingan tentu juga berdampak bagi harga sewa yang kompetitif. Kamar yang disewa Fahri ini berharga 150 ribu perbulan yang dibayar pertiga bulan. Aku sempat bertanya tentang pola pembayaran pertiga bulan yang saat ini tampak tengah tren di dunia per-kos-an kota ini. Jawaban yang memuaskan belum aku dapatkan.    

 

“Kos cewek gue di seberang sana,” tunjuk Fahri pada bangunan bertingkat bercat kuning persis berhadapan dengan kamarnya.

 

“Cie… Romantis banget lu, bisa curi pandang jarak jauh,” goda ku. Juga tambahan pujian atas penampilannya yang kian rapi dengan cukuran rambut pendek dan kamar yang tertata rapi.

 

 

Ia lalu sibuk dengan handphone-nya. Mencari  penginapan untukku.   

 

“Cewek gue gak bisa. Baru datang dari Bogor. Pengen istirahat katanya. Kosnya lagi rame,” kabarnya dengan mata yang tak beralih dari handphone di genggaman. 

 

Ku biarkan ia terus sibuk sementara hp-ku tiba-tiba error tak bisa menerima dan membuat panggilan. But I’m not worry so much. Aku tiba-tiba merasa sangat letih hingga tak mampu lagi berlaku sesuatu yang menguras fikiranku. Termasuk memikirkan dimana aku akan tidur nanti.

***

 

 

Ku rebahkan badan pada tumpukan kasur yang tersusun di sudut kamar sambil mencoba menikmati  siaran tv tunner versi Fahri yang di relay lewat monitor computer berlayar 14’ sementara ia pamit pergi menemani kekasihnya makan malam.

 

 

Dengan suara yang kadang tenggelam kuputar siaran debat para capres yang mempilkan RM009 (trademark yang diciptakan Rizal Mallarangeng atas pencalonannya menjadi presiden pada pemilu 2009 nanti), Fadjroel Rachman, Sukardi Rinakit, dan Ipang Wahid, tim kreatif yang biasa menangani iklan para calon pemimpin di media. Tayangan yang dihadirkan stasiun tv one ini juga menampilkan running text yang beberapa diantaranya mengabarkan kematian Syahrir dan rencana kepulangan jenazahnya dari rumah sakit di Singapura. Juga temuan baru polisi atas lubang yang memuat lima mayat lain korban pembunuhan Very Idam Henyansyah alias Ryan yang tengah menjadi berita paling popular saat ini.

Fahri lalu kembali dengan berita bahwa aku akan diinapkan di rumah pacar tetangga kos-nya saat ini. Sebelum pergi ke rumah yang aku tak tau dimana letaknya itu, ia mengantarku makan dan kami bertukar cerita pasca tak ketemunya kami selama hampir dua tahun ini (pertemuan terakhir yang aku ingat saat dia mencoba peruntungannya di Jakarta satu atau dua tahun yang lalu.  

“Nah, lu pasti balik ngerepotin gue lagi waktu cari kos nanti,” celetuknya saat ku ceritakan kemungkinan aku menjadi warga Jogja awal September nanti.

 

“Ya iyalah. What’s a friend for kalau bukan buat direpotin,” timpalku tanpa basa-basi. Sementara aku sendiri tak yakin dengan kepindahanku ke Jogja nanti.

 

 

***

Semangkuk sup dengan setangkup nasi dan teh tawar hangat kutandaskan sebelum keberangkatan kami menuju rumah Eta, pemilik rumah plus calon teman inapku nanti.

 

 

Ia gadis mungil dengan rambut bercat pirang yang langsung mengadu adanya makhluk aneh di kamar mandi saat kami datang. Aku, Fahri, dan Aan, laki-laki yang juga tampak mungil, pacar Eta cum tetangga kos Fahri. Dengan sigap Aan melibas seekor kepiting bertubuh cilik yang diadukan oleh Eta sebagai makhluk aneh yang tiba-tiba bersarang di kamar mandi. Obrolan yang mengisi waktu sebelum dua laki-laki itu kembali ke kos-nya lalu lebih berfokus pada aku si penghuni tumpangan baru. Sesekali dua sejoli yang masih menjadi mahasiswa tahun kedua UGM ini merapat sambil mengajukan pertanyaan tentang aku.

 

 

Aku lalu menempati satu dari tiga ruang tidur yang tersedia dari rumah yang tampak belum lama dibangun di salah satu komplek perumahan di wilayah yang tak ku kenal ini. Rumah yang diaku Eta sebagai rumah orang tuanya dan ditempatinya seorang diri sementara orang tuanya memilih tinggal di Solo.                

 

 

Aku lelah. Tapi tak bisa tidur. Malam itu di kamar yang masih tercium bau rumah baru aku tandaskan membaca “Indopahit”, buku souvenir perkawinan Andreas Harsono dan Sapariah Saturi yang aku pinjam dari Fahri (aku luput menghadiri acara mereka dan tak mendapatkan buku berdesain dan lay out tempo doeloe itu. Tulisan Indar, eks kontributor Pantau yang kini mengepalai WWF wilayah Sulawesi Tenggara dan rumah kos-nya juga sempat aku inapi saat aku ke Kendari tempo lalu, mengesankanku. Ia mengurai  makna perkawinan dengan rumah tangga orang tuanya sebagai latar).

 

Majalah Tempo edisi minggu ini dengan tampilan Ryan, sang pembunuh berantai asal Jombang sebagai cover story yang sengaja aku bawa dari Jakarta (dengan Fahri, aku sempat membincangkan kemungkinan bagusnya kisah Ryan ini ditulis atau dibuat film seperti “In Cold Blood”-nya Truman Capote. Meski, omong-omong soal film Capote, aku lebih suka kisah yang dituangkan dalam “Infamous” ketimbang “Capote” yang dimainkan oleh Philip Seymour Hoffman walau yang terakhir ini berganjar piala Oscar) juga menjadi teman tak bisa tidurku sampai azan subuh kudengar berseru-seru lewat pengeras suara.

 

III

Aku putuskan untuk menghabiskan waktu di Malioboro pasca wawancara dengan Tim UGM yang sumpah mati tak meningkatkan sedikitpun adrenalinku untuk mengetahui apakah aku merupakan kandidat yang lulus seleksi atau tidak. Aku pernah mengambil studi master sebelumnya dan aku tau hal ini akan ditanyakan oleh Tim UGM nantinya. Aku jawab semuanya tanpa beban. Termasuk keinginan ideal plus platonisku yang sesungguhnya untuk mendapatkan beasiswa studi di luar negeri yang tak kunjung kudapatkan hingga kini. Dengan nilai TOEFL yang masih di bawah standard aku pun tak berniat untuk mengira-ngira apakah itu akan menjadi nilai plus atau minus yang akan memberatkan lamaranku.

 

 

Baru selesai wawancara. Rencana ke Malio sekarang. Just let me know if u’re free then. 

 

 

Layangku pada sandek yang ku kirim ke Fahri. Aku berniat ke Ulen Sentanu, museum yang beberapa kali diperbincangkan penghuni milis sejarah atau kembali menengok keraton pasca gempa bila waktunya memungkinkan (meski kerap mengaku pengangguran aku berusaha menghormati waktu yang tak bisa disediakan Fahri untuk menemaniku). 

 

 

***

 

 

Kususuri koridor yang memanjang di kanan kiri Jalan Malioboro. Berharap bisa mendapatkan sabuk yang akan kupasangkan dengan sebuah dress batik yang telah dijahitkan adikku dan kuniatkan akan kugunakan pada resepsi Rita Olivia Tambunan, teman eks kantorku Kamis minggu ini. tapi barang-barang yang memadati koridor ini tak satupun ada yang menarik minatku. Termasuk batik-batik yang berseliweran di sana sini dan tengah menjadi tren berbusana saat ini.

 

Wilayah ini tak pernah sepi. Koridor selalu padat pengunjung. Dengan turis lokal dan bule-bule yang rajin berpose dan mengambil gambar. Rasa aneh sempat melintas saat beberapa orang lokal tampak berlaku seperti turis di wilayah ini. Berpose dengan gaya pakaian a la plesiran. (Hah, bukan kah aku juga bagian dari mereka? Tidak sama norak kah aku saat ini?) Beberapa menawar barang dan tampak kelelahan dengan tas belanjaan yang menggunung. Aku, sekali lagi, tak tertarik dengan ragam barang yang ditawarkan. Barang-barang bermutu rendah dengan harga jual yang cukup tinggi. Membuat aku enggan menguras energi dan fikiran menawar barang-barang ini. Rasanya masih lebih enak belanja di Jakarta.

 

Rasa lelah kembali menyergap berbarengan dengan sandek Fahri yang menanyakan dimana keberadaan ku. Aku lalu minta dijemput dan diantar untuk mencari tiket. Hari menjelang sore dan aku berniat kembali ke Jakarta malam ini.

 

Peristiwa yang terjadi kemudian sungguh di luar dugaanku.

 

Aku tiba di ruang pemesanan tiket kereta api yang telah penuh sesak. Dengan giliran nomor antrian yang berselisih sampai 200-an nomor dan informasi tiket yang telah habis untuk malam ini juga besok pagi. Besok memang hari libur nasional. Dan ini kerap menjadi ajang panen perusahaan transportasi public dengan membludaknya penumpang.

Tak ingin berputus asa mendapatkan tiket, bersama Fahri ku arahkan pencarian tiket ke loket tiket penjualan langsung yang berjarak sekitar 200 meter. Inilah yang kemudian aku dapatkan setelah antri hampir 20 menit;

sebuah tiket untuk kelas bisnis bertarif 100,000,- KA Senja Utama YK, Jogjakarta-Pasar Senen, 29 Juli 2008, 18.30 WIB.

***

 

 

 

Aku pernah bersumpah untuk tak akan lagi menggunakan kereta api kelas bisnis (meski, nama Senja Utama ini sesungguhnya agak romantis juga. Mengingatkan kesukaanku pada perburuan sunset saat travelling).

 

Menurutku, kalau kau tak lagi menghargai dirimu sendiri naiklah kereta api kelas bisnis (apalagi ekonomi) di Jawa. Kau tak perlu antri beli tiket. Sepertiga atau seperempat uang dari harga tiket bisa kau berikan langsung pada petugas pemeriksa tiket di gerbong nanti. Dan kalau kau beruntung,  cukup bermodal koran yang bisa kau gelar di ruang yang bisa kau kuasai di gerbong nanti, kau bisa merebahkan punggung. Tak peduli itu di depan pintu toilet atau diatas sambungan antar gerbong dan menjadi aral lalu lalang penumpang atau penjaja barang diatas gerbong. Kau juga bisa membentuk atau menjadi anggota sindikat para penumpang gelap ini. Para penumpang yang pernah aku bayangkan bernyawa tanpa makna dan tak bernama bila suatu waktu terjadi kecelakaan dan data yang terpampang kemudian sangat sangat tidak akurat. 

 

Tapi Ami, perempuan mungil asal Ambarawa, teman kantorku, dan kerap PP Jakarta-Jogja di saat weekend, berkata sebaliknya: kalau kau ingin mengetahui the real life, naiklah kereta api non eksekutif. Akan kau temukan banyak kisah di dalamnya. 

 

Nyatanya, kondisi kali ini memaksa aku untuk menelan sumpah ku sendiri. Dan aku telah siap dengan kondisi paling buruk yang akan ku temui nanti.

IV

 

 

Setimbun nasi yang hampir memenuhi piring, sepotong bandeng presto berteman tumisan daun pepaya dan siraman kuah sayur bayam bening kuhabiskan sebagai menu makan siang yang baru saja usai kulakukan di hari yang telah masuk sore itu. Bersama Fahri, aku kembali ke kosnya untuk mengisi waktu menunggu keberangkatanku petang nanti.

 

 

Aku lelah. Ngantuk. Tak ingin kemana-mana lagi. Di kos Fahri kembali kunikmati siaran tv tak tentu arah sambil merebahkan diri. Sementara Fahri bercengkrama dengan para tetangga kos yang kebanyakan laki-laki sambil minum kopi.

 

Dengan asumsi kereta yang tak akan tepat waktu, aku berangkat mepet waktu diantar Fahri. Tak lagi sempat membeli bekal makan (aku sempat berencana membungkus seporsi sate sebagai bahan pengisi perut di kereta nanti) kami bergegas menuju stasiun. Tak sempat pula terlintas fikiran kemungkinan buruk menyangkut keberangkatanku nanti. Meski, di tengah jalan, beberapa kali sepeda motor yang di kendarai Fahri kerap berhenti tanpa ku ketahui sebab yang pasti. Dan aku urung membeli perbekalan untuk untuk teman perjalananku nanti.

 

***

 

Berjarak 400 meter memasuki area parkir stasiun, mesin motor benar-benar mati. Aku turun berjalan kaki sementara Fahri tetap mengendarai motor tanpa mesin. Tiba-tiba lonceng kereta yang memberitahukan keberangkatan kereta Senja berseru memanggil-manggil sementara kami belum tanak mendapatkan parkir bagi sepeda motor yang mati.

 

Fahri panik. Sementara aku tetap berusaha untuk tenang. Ia meyuruh ku bergegas. Tas punggung yang kubawa diambil alihnya. Aku berlari dibelakangnya. Tak ku ingat lagi dimana ia menaruh sepeda motornya. Kami berkejaran di tengah ulangan seruan pemberitahuan kereta yang akan segera berangkat. Bersama satu dua penumpang lain yang juga tampak ketinggalan kereta.

 

Lari mengejar Senja.

V

 

 

Salah satu dari misteri sebuah perjalanan yang kau lakukan seorang diri adalah dengan siapa kau akan betemu nanti. Kadang aku menikmati misteri ini. Bertukar cerita dengan teman seperjalanan yang baru saja kita kenal. Meski kadang lebih banyak aku yang mendengarkan atau bertanya mengorek lebih jauh pengalaman yang ia telah lakukan. Bisa pula berlaku sebaliknya. Saling diam atau memilih menyibukkan diri bila teman yang kita dapati tak terlalu menggairahkan atau malah menjadi gangguan.   

 

Memasuki gerbong dengan peluh menderas, aku sempat surprise mendapati kenyataan yang lagi-lagi diluar dugaanku. Tak kutemui para penumpang bergeletakan memenuhi koridor gerbong kereta. Semua duduk di kursi-nya masing-masing. Aku sendiri duduk bersebelahan dengan seorang laki-laki berperawakan sedang yang aku taksir berusia 3-5 tahun diatas ku. Dibarisan paling akhir dari gerbong bernomor urut empat.

 

Aku tak pernah khawatir sendirian dalam perjalanan. Tapi kasus Ryan baru-baru ini sedikit banyak mempengaruhiku untuk bersikap terhadap orang yang baru ku kenal. Sempat ku tanggapi seadanya keramahan laki-laki di sebelahku. Bersiap terhadap segala kemungkinan.

***

 

Nyatanya ia laki-laki yang menyenangkan. Mempersilahkanku menukar posisi duduk dengannya agar aku terhindar dari lalu lalang orang yang berjalan di lorong gerbong. Meminjamkan Harian Jogja yang telah tandas ditangannya dan membayar harga bantal yang semula sama-sama kami kira sebagai complement dari kereta.

 

Kami bertukar cerita. Saling bertanya. Mengisi perjalanan dengan obrolan. Kasus Ryan (lagi), ruwetnya persoalan bangsa (dan perbandingannya dengan negara tetangga), sampai hal-hal personal (ia sempat mengeluhkan rasa ngilu di tulang belakang. Akibat melakukan olah raga tanpa pemanasan. Juga topi kupluk yang segera dikenakan untuk menahan hembusan angin malam di kepala).

 

Para penjaja asongan sibuk menjajakan dagangannya. Berselang seling dengan petugas kereta yang juga menawarkan menu yang tak mengundang selera dan petugas tiket yang datang melubangi tiket penumpang.

 

Aku sempat mengungkapkan keherananku atas fenomena duduk manisnya para penumpang gerbong yang baru kali ini kutemui yang ditanggapinya dengan kabar pembenahan manajeman yang tengah dilakukan kereta api meski biasa berjalan hangat-hangat tahi ayam. Juga berita ditemukannya serangkaian bom molotov di bawah gerbong kereta api Cirebon Express yang kusaksikan sore menjelang keberangkatan dari kos Fahri dan sempat membuatku was-was.

 

Sebuah paradox dalam jasa angkutan publik di negeri ini.

 

***

 

Dalam suasana riuh lalu lalang penjaja asongan di dalam gerbong yang terus berlangsung hingga dini hari, pengamen dan penjaja pelayan kebersihan yang minta bayaran, panasnya pantat karena bentuk dan desain kursi yang memang dirancang secara tidak nyaman, rasa penat yang tak bisa ku tuntaskan, dan suara obrolan pasangan lain di barisan depan yang tampak enggan menghabiskan waktu perjalanan dalam lelap, aku tampak terhanyut dalam misteri perjalananku kini.

 

Kisah senja dengan sejuta cerita.

 

Tak ku ingat berapa banyak stasiun yang disinggahi kereta ini sepanjang perjalanan. Kepalaku sempat terantuk pinggiran jendela yang keras saat aku tak mampu berjaga. Sesekali ku lirik teman seperjalananku yang tak juga berani kutanyakan apa statusnya kini.

 

Seorang laki-laki beranonim. Berjaket hitam, celana jeans, sepatu kulit casual. Berlaku santun dan tampak tak berupaya mencari-cari kesempatan atas kelengahanku. Tak segan mengeluarkan recehan pada para pengamen dan penjaja service yang mencari peruntungan. Dan tak menunjukkan tanda-tanda kegelisahan bahwa ia seorang perokok (satu perilaku yang kerap aku idamkan dari laki-laki yang mengaku paling jantan sekalipun).    

 

Kubiarkan rasa penasaran itu berkembang hingga aku tiba di Stasiun Pasar Senen. Dalam sahutan lantuanan ayat suci pengantar Subuh pada pengeras suara. Meninggalkan laki-laki tak bernama yang entah kapan akan kutemui lagi.***

 

Jogja-Jakarta, Juli Akhir, 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ia bergabung dengan koloni Taufik Rahzen dalam lembaga dan media antah berantah berkantor di kawasan elit, Jalan Veteran Jakarta. Saat itu aku bersama Popon –kawan kami yang lain yang juga kerap aku kontak sebagai teman hunting di Jogja namun kini telah hijrah ke Jakarta dan tampak betah dengan pekerjaannya sebagai jurnalis di hukumonline– sempat mencicipi es krim Ragusa yang tersohor itu dengan harga diskon atas nama pertetanggaan. Kami juga sempat melancong ke Monas untuk menikmati air mancur joged yang saat itu belum lama diluncurkan oleh Sutiyoso. Walau aku sempat lihat Fahri yang tertidur di tengah-tengah pertunjukan).

 

 

 

 

 

 

 

 

Ada halaman parkir yang cukup luas. Kutemui secarik kertas berisi pengumuman pada salah satu tiangnya. Bukan pengumuman yang memajang maklumat klise yang melarang penghuninya pulang larut atau membawa teman lawan jenis ke dalam kamar. Melainkan pemberitahuan untuk memelankan laju kendaraan diatas jam sepuluh malam. Termasuk mematikan mesin bagi sepeda motor yang telah dimodifikasi dengan knalpot diistilahkan berglondongan. Ditutup dengan kalimat: YANG NGEBUT MALING.  

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengingatkan ku pada lagu Katon Bagaskara yang monumental itu. Bertahun silam.

Pak Tobirin

May 18th, 2007 by syafa

Banyak yang tak mengenal nama aslinya. Sama halnya dengan saya. Meski kami sempat berbincang banyak dalam waktu yang tak lama.

Saya mengenalnya pada detik terakhir saat kami memutuskan kembali ke Jakarta, Selasa, 6 Desember tahun lalu. Kami mampir ke rumah Pak Nasikun, Guru Besar Sosiologi UGM, di Jalan Prawiro Kuat, Condong Catur, Sleman, Jogjakarta. Di jalan ini pula terletak kampus UII untuk Fakultas Ekonomi. Kalau kita keluar sedikit pada ujung jalan ini akan bertemu pada ringroad utara yang di seberangnya juga terletak kampus UPN atau yang sering disebut juga dengan kampus veteran.

Kami singgah sejenak di rumah Pak Nasikun sebelum bertolak ke bandara sore itu dengan tujuan yang beragam. Sekedar transit sebelum bertolak ke bandara, atau menjadi tempat singgah sementara sebelum melanjutkan ke perjalanan selanjutnya karena beberapa dari kami ada juga yang memutuskan untuk tak langsung kembali ke Jakarta sore itu, atau sekedar sowan ke rumah seorang profesor yang kebetulan juga menjadi salah satu pengurus lembaga kami plus ketua pelaksana acara yang baru saja usai kami ikuti.

Oh ya, kami baru saja selesai mengikuti sebuah kursus pendek selama 10 hari di USC Satu Nama Sleman (yang ini benar-benar Sleman yang terletak jauh di luar Jogja dan pusat keramaian. Orang sering mengistilahkan dengan nama Sleman coret). Sebuah acara yang cukup melelahkan meski saya sempat bolos beberapa hari untuk sekedar melihat dunia lain di luar acara shortcourse itu sendiri. Pada hari terakhir acara shortcourse itulah kami putuskan untuk singgah ke rumah Pak Nasikun sambil meghabiskan beberapa menit menjelang jadwal penerbangan kami.

Begitu tiba di rumah Pak Nasikun yang saat itu juga kebetulan tengah berbenah, beberapa dari kami memutuskan untuk pergi berbelanja membeli oleh-oleh. Saya sendiri memutuskan untuk tetap tinggal di rumah itu.

Ada yang membuat saya enggan pergi kemana-mana lagi saat itu. Selain karena lelah, perhatian saya saat itu tengah tersedot pada pikulan es dawet yang tengah mangkal di depan rumah. Saya langsung tertarik mencicipinya begitu mobil yang kami tumpangi parkir di depan rumah. Harus saya akui saya termasuk orang yang punya sensitifitas yang tinggi untuk mencicipi jajanan yang menarik perhatian saya. Maka begitu teman-teman saya pergi berburu oleh-oleh saya langsung menyambangi penjual es dawet itu.

***

Penjualnya seorang lelaki berumur bertubuh tirus yang ramah menyapa para pelanggannya. Properti yang dimilikinya sederhana saja. Dua pikulan yang berisi drum agak besar tempat penyimpanan es dan dawet. Lalu beberapa toples berisi cairan gula merah, ketan hitam dan irisan buah nangka.

Es dawet ini sendiri bisa beragam isi dan penamannya. Di Jakarta minuman sejenis ini biasa juga disebut dengan nama ”es cendol”. Cendol atau dawet itu sendiri biasanya terbuat dari tepung beras yang dibentuk seperti kumpulan cacing bertubuh pendek berwarna hijau yang lalu diberi kuah santan, gula merah, dan tentu saja balok es yang sudah diserut atau dipotong kecil. Sebagai aksesoris beberapa penjual dapat menawarkan beberapa pilihan tambahan ke dalam es. Ketan hitam, tape, irisan buah nangka, atau serutan kelapa muda.

Bila racikannya pas, kita akan mendapatkan kenikmatan minuman segar yang khas dengan harga yang sangat murah. Meski tak jarang kita juga akan menjumpai penjual es yang tampaknya tak terlalu mementingkan rasa. Entah rasa dawet yang tak enak dikunyah dilidah atau rasa hambar bahkan nek karena gula yang kurang atau bahkan terlalu manis. Saya begitu yakin rasa tak enak itu tak akan saya jumpai kali ini. Seperti saya sudah katakan, saya termasuk orang yang jeli dalam hal kuliner.

Penjual es dawet itu langsung menyapa saya begitu saya menghampirinya.

”Monggo mbak, dibungkus atau digelas?”

Saya sempat ragu memutuskan untuk membungkus minuman itu dan meminumnya di rumah Pak Nas atau nongkrong saja menemaninya sambil menikmati segelas es buatannya. Sesaat setelah saya melihat tersedia bangku plastik kosong di dekatnya segera saya putuskan untuk duduk saja disitu. Ia segera meracik segelas es untuk saya.

”Wah, tawonnya pada ngumpul nih pak?,” komentar saya melihat ”genuk” berisi cairan gula merah yang ramai dikelilingi lebah-lebah kecil.

”Iya, Mbak. Ini pake madu asli,” jelasnya.

”Dawetnya juga bikin sendiri, Pak?”

”Iya. Pagi buatnya. Trus dibuat dagang siang begini.”

Segelas besar es dawet tersaji dan saya langsung menikmati kesegarannya. Saya mencoba terus mengajaknya berbincang.

”Biasa mangkal di sini, Pak?”

”Iya. Tadinya sempet di sana dekat kampus sana. Trus pindah kesini.”

”Tinggal di mana pak?

”Dekat pasar sana.” Ia sempat menyebut sebuah tempat yang saya tak tau persis letaknya dimana.

”Dari rumah kesini jalan?,” rasa penasaran saya berlanjut. Tak mampu membayangkan bagaimana tubuh tirus itu berjalan dengan dua apikulan di pundaknya.

”Itu pake sepeda.” Ia menunjuk sebiuah sepeda ”jengki” yang tersampir pada sebuah tembok.

”Sehari habis berapa gelas, Pak?,” iseng saya bertanya melihat deretan gelas kosong yang baru saja ditinggalkan pembeli yang selesai menikmati dagangannya.

”Gak tentu. Kalo rame bisa seratus. Kadang juga lima puluh.”

”Sehari-hari dagang begini ’cucuk’ buat makan sehari-hari?,” berondong saya lagi.

”Ya alhamdulillah. Namanya rezeki ada yang ngatur.”

”Sudah berapa lama dagang pak?”

”Kalo dagang begini belum lama. Saya tinggal disini juga belum lama. Tadinya sempat dagang di pasar. Di kampung saya sana. Ponorogo.”

”O, asli Ponorogo ya pak?”

Daerah ini langsung mengingatkan saya pada Evi, teman dekat saya di Jogja yang biasa saya kontak bila saya kebetulan singgah di kota ini dan ia akan dengan senang hati menemani saya plesiran di kota ini. Juga pada Mbak Pur, teman ibu yang berprofesi sebagai tukang ayam potong. Meski ketiganya sama sekali tidak berhubungan.

”Iya. Tapi sudah lama juga saya gak tinggal di sana.”

”Dulu saya tinggal di Ternate, Mbak”.

Saya sempat terkejut mendengar pengakuannya yang terakhir. Tak pernah membayangkan ia pernah tinggal cukup lama di daerah di ujung lautan sana. Logat dan penampilannya sama seperti orang Jogja kebanyakan. Santun. ”Njawani” orang bilang. Saya bahkan sempat menduga ia telah cukup lama berdagang di sini. Ia tampak akrab dengan orang-orang yang tampak lalu lalang yang rata-rata merupakan mahasiswa di sekitar sini. Beberapa mahasiswi yang sempat lewat menyapanya dan ia membalasnya dengan ramah meski mereka tak membei dagangannya.

”Di Ternate hampir dua puluh tahun,” lanjutnya lagi. ”Di sana dagang juga. Sudah lumayan. Punya rumah. Tanah. ….tapi semua habis waktu kerusuhan itu. Untung keluarga semua selamet…. Setelah kerusuhan baru balik ke Ponorogo. Sempet bingung juga mau ngapain di sana. Wong sudah ndak punya apa-apa”.

Ia lalu bercerita tentang tiga anak-anaknya.

”Alhamdulillah sekarang tinggal satu yang kuliah di sini. Yang satu kerja tinggal di Malaysia. Satu lagi di Singapura. Anak saya laki-laki semua. Tapi ya pada mau bantu-bantu saya dan ibunya di rumah”.

Saya terdiam mendengar kisahnya. Saya sempat membayangkan Ternate, daerah yang yang belum pernah saya kunjungi, saat kerusuhan tahun 1999 terjadi. Siapa sangka saya akan menjumpai salah satu korban yang bertahan hidup di kota ini. Ia bahkan mampu memberikan pendidikan yang cukup tinggi bagi anak-anaknya. Jalan yang cukup panjang tampaknya telah dilaluinya. Inikah bagian dari jalan hidup?

Tanpa terasa saya telah menghabiskan gelas pertama saya. Saya bertanya berapa harganya.

”Seribu dua ratus lima puluh rupiah, Mbak,” jawabnya.

Saya sempat tak yakin dengan angka terakhir yang disebutnya. Keraguan saya dijawabnya dengan ditunjukkannya sebuah dompet lusuh berisi lipatan besar berisi lembaran uang ribuan dan sekumpulan uang receh termasuk logam lima puluh rupiah. Nampaknya harga lima puluh rupiah baginya bukan sekedar basa-basi. Ia siap dengan uang kembalian lima puluh rupiah. Pemandangan yang amat sangat langka saya jumpai.

Saya putuskan untuk menggenapkan lagi rasa dahaga saya sambil memesan kembali es dawetnya untuk porsi yang kedua. Percayalah, rasanya memenag enak luar biasa. Lagi pula teman-teman saya belum kembali dari berburu oleh-oleh. Dan saya masih punya waktu untuk berbincang dengannya.

”Umur berapa pak?”

”Lima puluh lima.”

Saya lihat wajah tirusnya. Umurnya hampir sama dengan ayah saya. Tapi ia terlihat lebih tua dari ayah saya. Kami melanjutkan beberapa obrolan. Sampai saya lihat rombongan teman-teman saya tiba. Segera saya bayar dua gelas es dawet yang telah tandas. Bertukar dengan uang dua ribu lima ratus rupiah. Kami tak punya waktu banyak. Segera saya pamit. Setelah sedikit packing dan berbasa-basi dengan tuan rumah saya dan teman-teman segera menuju bandara. Saya bahkan tak sempat menanyakan nama penjual es dawet yang masih tampak mangkal di depan rumah saat taksi menjemput kami. 

***

Beberapa hari di Jakarta saya masih teringat pada kesegaran es dawet itu. Juga pada kisah hidupnya. Saya sempat merasa gelisah. Bagaimana mungkin saya tak tahu siapa namanya. Saya coba menghubungi teman-teman saya di Jogja untuk mencari tahu siapa namanya. Bahkan bertanya pada Rina, anak Pak Nas, tempat penjual dawet itu biasa mangkal. Lewat sebuah pesan pendek, Rina menjawab, Wah.. saya juga ndak tau siapa namanya. Dia memang biasa mangkal disini. Kita bisanya cuma manggil Pak Dawet saja. Nanti coba saya tanya mbak-mbak yang ada disini. Saya kabari nanti…

Lama tak ada kabar. Namanya mungkin memang menjadi tak terlalu penting. Tetapi saya semakin penasaran dan terus berusaha mencari tahu. Termasuk menugaskan teman dekat saya di Jogja,  Evi yang asli Ponorogo, untuk menjadi detektif dadakan.

Wah… Susah, Mbak. Dua kali aku kesana dia gak ada. Gak dagang lagi kayaknya. Sekarang hujan terus. jawabnya pada salah satu email yang dikirimnya. Membuat saya merasa makin gelisah. Musin hujan memang telah tiba. membuat saya makin berfikir keras. Usaha apa yang dibuatnya disaat musim begini?

Sampai… Usaha mendapatkan nama itu akhirnya tiba juga. Lewat sebuah email Evi kemudian berkisah:

Mbak kayaknya dia memang sudak gak dagang lagi. Beberapa kali aku kesana gak pernah ketemu. Tapi ’ndilalah kemarin aku sempat mampir ke tempat kos temanku di dekat situ. Dia juga langganan es dawet Bapak itu. Kata dia namanya kalo gak salah Pak Tobirin gitu. Sekarang dia juga gak tau kemana Bapak itu. Semoga ini bisa bantu ngurangi rasa penasarannya ya Mbak… ;-)

Saya balas emailnya dengan ucapan terima kasih dan meminta maaf telah sangat merepotkannya. Saya berjanji akan simpan baik-baik nama itu. Berharap dapat bertemu dan kembali merasakan kesegaran es dawetnya suatu hari nanti. Sebuah harapan yang tampaknya agak sulit terwujud.

Baru-baru ini saat saya berkesempatan mengunjungi Jogja dan kembali bertamu ke rumah Pak Nasikun jejak penjual es dawet itu sama sekali tak berbekas.

last modified: Maret 2006

Geliat Kota Doha

May 16th, 2007 by syafa

Qatar_airways_2

Banyak yang merasa excited saat saya kabarkan pada teman-teman saya bahwa saya akan berangkat ke Doha, Qatar, beberapa hari setelah merayakan lebaran tahun lalu. Beberapa dari mereka bilang Doha merupakan kota yang modern dan cantik. Banyak pula yang menggoda saya. “Jangan lupa kembali karena tergoda raja minyak sana lho…”. Saya hanya senyum-senyum saja.

 

 

 

Doha adalah ibukota dari negara kecil di semenanjung Arab, Qatar, yang mengalami tingkat kemakmuran yang tinggi sejak ditemukannya cadangan minyak dan gas bumi dalam skala besar pada tahun 1940-an. Luas negara ini kira-kira sama dengan pulau Bangka di Indonesia. Letaknya yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi di bagian selatan dan dikelilingi Teluk Persia, sempat disebut-sebut sebagai salah satu wilayah bagi pangkalan militer tentara Amerika saat Perang Teluk tahun 1990 lalu.

 

 

Saat berangkat, saya tak punya bayangan apapun tentang Doha selain bagian dari negeri gurun yang pastinya panas luar biasa. Panitia acara yang mengundang saya sebelumnya telah mewanti-wanti dalam hal “aturan berpakaian”.

“Tak ada aturan khusus dalam hal berpakaian. Meski begitu, harap Anda mempertimbangkan iklim di Qatar yang lumayan panas meski ini sudah masuk bulan November”, tulis mereka lewat surat elektronik.

 

 

 

Saya berkesempatan mengunjungi Doha atas undangan panitia seminar internasional tentang demokrasi yang sebagian besar dananya ditanggung oleh PBB lewat UNDP-nya. Ini kegiatan rutin tiga tahunan yang mempertemukan tiga elemen penting negara demokrasi. Parlemen, pejabat di tingkat eksekutif dan masyarakat sipil. Bersama Mas Cahyo rekan seperjalanan saya yang berangkat dari Surabaya dan sama-sama menjadi peserta baru di acara konferensi ini, kami tentu diundang untuk mewakili elemen yang terakhir. Sebelum Doha yang menjadi tuan rumah untuk acara konferensi yang keenam ini, Filipina dan Ulanbataar, Mongolia, sempat pula menjadi tuan rumah konferensi sebelumnya.

 

 

Saya tak tau persis bagaimana Doha bisa terpilih menjadi tuan rumah kali ini. Mungkin juga menyangkut kesiapan dan promosi sang tuan rumah pada acara konferensi sebelumnya. Yang jelas, saya sempat dibuat tak yakin dengan kesiapan panitia mengingat lambatnya informasi yang mereka berikan. Segala urusan keberangkatan  saya urus injury time. Belakangan saya tau ternyata banyak juga peserta di beberapa negara (Malaysia salah satunya) yang tak bisa berangkat karena urusan administrasi yang harus diurus serba mendadak ini.

 

 

Kecantikan kota Doha yang banyak dihembuskan para teman menjelang keberangkatan saya ke negeri gurun itu pun tak nampak saat pesawat yang saya tumpangi bersiap mendarat di pagi dengan sinar matahari yang cukup menyengat akhir Oktober lalu. Yang tampak hanya bangunan-bangunan persegi dengan tanah kering kecolaklatan di sana-sini. Sebuah kaldron dengan logo khas menyambut Asean Games tampak mencolok mata. Mengingatkan saya bahwa Doha juga tengah bersiap menyambut hajatan besar tak lama lagi. Aha.. mungkin banyak yang bisa dilihat berkaitan dengan persiapan hajatan ini, batin saya saat itu.

 Pembangunan_di_kota_doha_4 

Nyatanya, Doha memang kota yang modern dan cantik. Pembangunan tengah dilakukan di sana-sini. Membuat jalan sedikit macet. Kemoderenan kota ini tampak dari bangunan-bangunan gedung bertingkat yang tampak disana-sini. Dengan arsitektur modern mendominasi. Saya sempat terheran-heran dengan banyaknya gedung baru yang tampak belum sepenuhnya selesai dibangun. Apakah ini khusus dibuat demi persiapan Asean Games nanti? Supir taksi yang siang itu mengantar saya meyakinkan keragu-raguan saya.  

“Ini negeri kaya. Tak payah membuat gedung dalam sekejap”, begitu kira-kira jawaban sang supir yang berasal dari Kerala, India ini. Termasuk untuk membangun sebuah perkampungan atlet dan gedung yang diperuntukkan sebagai kampusnya para atlet dari berbagai negara pada acara Asean Games nanti. Proyek pembangunan ini mengingatkan saya pada legenda Loro Jonggrang dalam versi modern mengingat event Asean Games pun hanya tinggal menghitung hari.

 

 

 

Pembangunan di sana sini tampaknya juga akan menjadikan Doha salah satu kota penting bagi acara-acara internasional nantinya. Sebelum ini telah banyak acara penting yang telah dan akan diselenggarakan di kota ini. Sebut saja pertemuan WTO yang akan digelar Maret tahun 2007 nanti. Konon, permaisuri dari Emir saat ini turut berperan bagi penciptaan negeri Qatar yang terbuka dan lebih dikenal dunia. 

 

 

Selain modern, Doha juga kota yang multikultural. Banyak pekerja migran dari berbagai negara disini. Kebanyakan dari negara-negara Asia dan Afrika yang mencari peruntungan di negeri yang tingkat kemakmurannya disebut-sebut setara dengan negara-negara Eropa ini. Saat berkeliling kota, saya sempat melihat ada sekolah khusus bagi anak-anak warga Filipina. Menurut keterangan teman asal Filipina yang saya kenal saat konferensi, konon total pekerja Filipina melebihi penduduk asli kota Doha itu sendiri. Tenaga kerja asal Filipina pun terkenal dengan keprofesionalan mereka. Kebanyakan dari mereka menempati posisi yang lebih tinggi dari negara-negara lainnya –terutama dari Asia Selatan– yang kebanyakan menjadi buruh kasar. Tenaga kerja dari Indonesia pun banyak. Selain dari India, Pakistan, Libanon, Bangladesh, Nepal, dan negeri-negeri tetangga lainnya.

 

 

***

Saya beruntung bertemu supir yang mau mengantar saya sedikit berkeliling kota dan banyak cerita di sana sini. Bersedia bersabar menunggu dan memberi kesempatan bagi saya untuk mengambil gambar. Meski, tak semua objek boleh diabadikan. Beberapa gedung perkantoran seperti gedung pemerintahan, markas tentara yang bentuknya seperti benteng, atau “istana” tempat sang Emir biasa bertugas sehari-hari, pada pelataran luar jelas-jelas terpancang plang yang melarang kita untuk mengambil gambar. Larangan ini tidak main-main. Saya sempat merayu sang supir untuk berhenti sejenak di depan istana dan ia dengan keras menolaknya.

 

 

 

”Jangan coba-coba Anda langgar kecuali Anda ingin merasakan penjara sini!”, tegas sang supir saat saya bertanya mengapa larangan itu diberlakukan.

Alhasil, saya hanya bisa mengagumi arsitektur beberapa bangunan terlarang itu dalam hati.

 

Tki_1
Keberuntungan saya bertambah saat bertemu dengan beberapa pekerja dari Indonesia. Beragam profesi mereka. Pegawai hotel, pekerja di perusahaan minyak, atau sekedar pekerja musiman yang tengah mengerjakan kontrak untuk beberapa bulan saja. Ada nuansa lain saat kita bertemu warga negara sendiri di negeri orang. Meski kita tak pernah kenal sebelumnya dan dalam pertemuan yang singkat. Nyatanya, salah satu dari mereka bersedia menjadi guide untuk melihat lebih dalam kota Doha saat kami berkesempatan mempunyai waktu luang di luar acara masing-masing.

 

 

 

Saya sempat pula bertemu dengan staf kedutaan Indonesia disini. Kami sempat ngobrol dan berjanji bertemu kembali untuk menelisik Doha lebih jauh. Janji yang tak seharusnya terlalu diambil hati. ”Gaya diplomasi pejabat” begitu istilah yang dilontarkan Mas Cahyo, teman seperjalan saya, saat mendapati sulitnya mengkonfirmasi janji ”sang pejabat” tadi.

Kami –saya, Mas Cahyo dan Budi, peserta konferensi dari Jenewa yang baru saya kenal di acara konferensi dan ternyata wong Jowo dengan bahasa Inggris yang begitu mengalir seperti air dan menggunakan bahasa Perancis untuk setting di ponselnya tapi begitu kangen makan tempe bongkrek dan ngomong ”jancuk!” sangking begitu lamanya tak balik ke Indonesia—kemudian memutuskan untuk lebih memerhatikan janji dengan kenalan baru kami para pekerja dari Indonesia di negara yang menjual bensin jauh lebih murah dari air mineral ini.

 

 

 

Bersama Dodi, guide dadakan kami yang berasal dari Surabaya namun telah dua tahun tinggal dan bekerja di Doha, kami atur jadwal agar bisa melihat lebih jauh kota Doha. Dodi adalah salah satu front office hotel Four Season, salah satu hotel termegah di kota Doha. Ia tampaknya sudah tahu betul seluk beluk kota Doha yang lebarnya tak seberapa ini. 

 

 

Dengan waktu yang serba terbatas kami memutuskan untuk keliling kota dengan taksi sewan. Kami berkeliling pasar dan jalan-jalan di pinggir kota dengan bangunan-bangunan apartemen sederhana di sana-sini. Dodi lalu berkisah beberapa rumah penduduk di pusat kota pun sempat mengalami penggusuran yang dipindahkan ke pinggir-pinggir kota demi pembangunan kota Doha. Ia juga memastikan biaya hidup yang cukup tinggi di Qatar. Termasuk dalam hal sewa tempat tinggal yang biasanya dihitung per meter. Selain ada konvensi tak tertulis, jangan pernah berharap orang migran mampu memiliki tanah sendiri karena tanah hanya dimiliki penduduk asli dan tak akan diperjual belikan dengan orang migran kecuali untuk sewa. 

 

 

***

Sama seperti beberapa kota di Asia, tak semua taksi resmi di sini. Beberapa merupakan mobil pribadi yang disewakan untuk dijadikan taksi gelap. Para sopirnya kebanyakan dari India atau Pakistan. Meski sebutan taksi gelap sebenarnya tak terlalu mengkhawatirkan di sini. Mereka tetap profesional dengan harga yang bisa kita sepakati dari awal. Mereka umumnya adalah para penduduk migran yang dengan uang simpanannya mampu membeli atau menyewa mobil bekas untuk dijadikan taksi. Bila kita beruntung kita bahkan bisa menjadikan sebagai guide wisata kita. Taksi-taksi ini, baik yang resmi dengan argo maupun tidak, umumnya pun punya aturan yang sama dalam penetapan harga. Atas alasan sepi penumpang, tarif malam biasanya sedikit lebih mahal dibanding siang hari.   

 

 

 

Saat berkeliling, kami juga menyempatkan diri untuk makan siang di rumah makan Padang di sudut kota yang asli dikelola oleh orang Padang namun juga mempekerjakan pegawai dari luar Indonesia ini. Saya sempat mengagumi masakannya yang enak dan pasokan bumbu yang cukup lengkap. Tentu saja dengan harga yang jauh lebih tinggi di banding di Indonesia. Ada beberapa rumah makan Indonesia di Doha. Meski tak banyak. Beberapa bumbu dan sayuran dipasok secara rutin dari Srilangka.

 Corniche_1

Salah_satu_pasar_tradisional_3_1

 

Salah_satu_pasar_tradisional_2

Pertemuan dengan Dodi juga memberi kemewahan lain karena saya berkesempatan menikmati keindahan kota Doha melalui Hotel Four Season dan Sheraton yang letaknya berdekatan. Dua hotel mewah ini menampilkan pemandangan pinggir pantai yang indah. Di seberangnya kita bisa melihat sudut lain kota Doha. Pantai yang juga menjadi pelabuhan dan keindahannya bisa juga kita nikamti di sepanjang jalan raya ini juga biasa menjadi tempat nongkrong. Orang menyebutnya corniche. Di pantai ini disewakan pula kapal-kapal hias yang akan mengantar kita ke seberang kota bila kita ingin sedikit berpesiar.

 

***

 

Bagi Anda yang berniat berbelanja tak perlu bingung karena ada beragam jenis pasar dengan beragam barang yang dijual di Doha. Mulai dari mal-mal dengan gedung megah sampai pasar-pasar tradisional dengan arsitektur bangunan khas gaya Arab. Kebingungan akan muncul justru bila kita bertanya apa makanan atau barang khas yang bisa kita jadikan oleh-oleh dari kota ini. Multikulturalnya kota Doha juga ditunjukkan dengan beragam pasokan barang dari beragam negara di Asia. Terutama dari Cina, India, Pakistan, dan Iran. Beberapa makanan bahkan merupakan pasokan dari Dubai.

 

 

 

Saya lebih suka ”cuci mata” di pasar-pasar tradisional sini ketimbang mengunjungi mal-mal megah dengan harga yang cukup tinggi. Syuq (pasar) mereka bilang. Saya baru merasakan atmosfer dunia Arab yang sesungguhnya di pasar-pasar tradisional ini. Bentuk-bentuk bangunan dengan arsitektur menyerupai kubah-kubah dan kayu-kayu penyangga sebagai aksesoris. Dan… hal yang sangat menarik dari pasar tradisional ini adalah kios-kios-nya yang berpendingin udara meski dari luar bentuk kios-kios ini kelihatan sederhana saja. Hingga kita tak perlu khawatir dengan udara panas yang menyengat di luar sana.

Masih menurut Dodi, bangunan pasar-pasar tradisional ini pun tak lepas dari proyek revisi dalam rangka menyambut Asean Games nanti. Saya sempat melihat perbaikan bangunan dan jalan di sana-sini. Semua tampaknya demi mewujudkan visi Pemerintah Qatar sendiri yang telah jauh-jauh hari berpromosi bahwa di Doha kita akan dapat melihat perpaduan bangunan dengan gaya tradisonal dan modern yang harmonis.

 

 

 

Aneka barang dengan aksesoris arab yang kental dapat pula kita jumpai di pasar-pasar tradisional ini. Baju-baju gamis, jubah, kopiah, kerudung, beberapa souvenir yang menampilkan gambar padang pasir atau unta sebagai logo dan logo ”si mata biru” (blue eyes) yang dikenal sebagai peruntungan bagi warga Arab bisa kita dapatkan di sini. Baju-baju kurung dari kain sari India atau Pakistan juga banyak dijual disini. Juga karpet dan hambal dari Iran dan Pakistan. Bagi para perempuan yang berniat mempercantik tangan mereka dengan ukiran dan riasan hena yang aslinya berasal dari India juga bisa dilakukan di sini. Para pedagangnya pun banyak yang berasal dari India dan Pakistan. Mereka biasanya ramah dan langsung mengenali para pembeli yang berasal dari Asia terutama dari Indonesia. Tampaknya pamor masyarakat Indonesia yang suka berbelanja sampai pula disini.

 

 

Anda tentu saja harus pandai menawar bila ingin berbelanja di pasar-pasar tradisional ini. Syukur bila Anda mampu berbahasa Arab agar bisa mendapat harga yang lebih bersahabat. Saran lain yang penting untuk diperhatikan agar tak kecewa pada waktu berbelanja selain tak lupa untuk menukar uang anda dengan uang Real Qatar yang rate-nya sedikit lebih tinggi dari Real Saudi adalah ada baiknya kita cermat mengingat waktu buka pasar maupun mall di kota ini bila tak ingin kecewa. Waktu buka semua pasar maupun mall yang tersebar di kota Doha ini umumnya seragam. Mereka buka pada pukul sembilan atau sepuluh pagi lalu tutup pada pukul dua belas atau satu siang. Setelah itu mereka  akan buka kembali toko-toko mereka pada pukul empat atau lima sore hingga malam pukul sepuluh malam. Beberapa bahkan buka sampai buka pukul dua belas malam. ***

 

 

Last modified: 29 Nov 06.    

 

Apalah Artinya Cinta

March 27th, 2006 by syafa

Ramayana

Sebuah obrolan di Minggu pagi menjelang siang. Di sebuah stand barang-barang souvenir di anjungan Sulawesi Selatan Taman Mini Indonesia Indah.

Pagi yang muram mendamparkan aku dan adikku di stand ini. Setelah letih berkeliling (kami sempat mampir di anjungan Riau yang masih tercium bau cat pada dinding-dinding kayunya dan Museum Penerangan yang tak menarik isinya) dan senam pagi pasca subuh tadi. Tiba-tiba hujan mengguyur di tengah perjalanan. Cepat kuputuskan untuk berteduh di anjungan terdekat. Dan Sulawesi Selatan tampak di depan mata. Aku sempat terduduk sebentar di salah satu tangga rumah anjungan yang hampir reot. Ku amati beberapa rumah tongkonan yang tampak megah di depan mata. Beberapa orang berkerumun di bawahnya. Berteduh seperti aku. Selintas bayangan sempat membawa aku pada kenangan ke Tana Toraja beberapa waktu silam.  Bayangan yang sama saat aku mampir di anjungan Riau tadi. Merasakan de ja vu.

Konsep bangunan Taman Mini ini memang luar biasa. Orang tak perlu datang ke daerah-daerah yang ada di Indonesia untuk sekedar mengetahui budaya yang dimilikinya. Meski hanya diwakili oleh rumah-rumah adat yang megah berdiri dengan beberapa pernik yang disimpan didalamnya. Kalau kita beruntung, kita pun dapat menyaksikan pagelaran budaya disini. Menjadikan ajang klagenan. Menghapus sejarah kotor yang sempat meruap saat pembangunan tempat ini dimulai (kau tau kisah ambisius Nyonya Tien Soeharto pada salah satu warisan kebanggaannya ini kan?).

***

Stand itu terletak persis di bawah tangga tempat aku duduk. Sempat kulirik beberapa bandrol harga yang menempel pada beberapa barang. Merasa agak aneh dengan angka yang tidak terlalu tinggi untuk ukuran penjualan barang di tempat wisata.

Bosan duduk mencangkung menunggu hujan aku putuskan untuk singgah pada stand itu. Beberapa barang unik menyergap mata. Membangkitkan kembali gairah berbelanja. Meski aku sudah menenteng sekantung plastik berisi barang-barang obralan yang biasa terhampar di depan tugu saat orang ramai melakukan olah raga pagi. Kau bisa mendapatkan beraneka barang dengan harga kaki lima di situ. Tak hanya perlengkapan olah raga. Adikku sempat bercerita heboh bahwa ia mendapatkan sekeping MP3 berisi lagu-lagu Kla project tanpa sempat dibayar karena pedagangnya tiba-tiba diringkus petugas tanpa sempat ia menyelamatkan diri apalagi barang-barang dagangannya.

Uang yang makin menipis tak menyurutkan aku untuk mengamati barang-barang yang dipajang di stand itu. Tak semuanya berciri khas Sulawesi Selatan. Hampir tak ada malah. Kerajinan Jogja hampir mendominasi. Aku sempat terpikat pada jam weker berbentuk kotak rokok malioboro dengan tutup yang terbuka. Dengan batang-batang rokok yang menyembul dan detil yang dibuat mirip dengan aslinya. Dalam ukuran yang lebih besar tentu.

Penjaga stand ini seorang laki-laki berusia tanggung. Mencoba ramah menyapa sambil membersihkan lantai yang basah karena tempias hujan. Iseng aku menanyakan harga secara acak. Menanyakan rantaian gelang yang tampak terputus. Ia tak segan melayani meski aku tak membeli. Beberapa barang mengingatkan aku pada koleksi yang sempat pula aku temui di toko batik Mirota Jogjakarta atau pedagang-pedagang yang berjejer di sepanjang jalan Malioboro. Dengan harga yang tak jauh berbeda. Membulatkan kepastianku bahwa harga barang-barang di stand ini termasuk murah meriah.

Aku sempat bertanya bagaimana ia bisa memasang harga yang tak terlalu tinggi pada barang-barang dagangannya.

”Kita ambil langsung dari pengrajinnya, mbak. Kalo gak, mana bisa nutup. Bos-nya juga punya usaha sendiri. Ini tas-tas bikinannya,” jawabnya sambil merapikan beberapa barang.

Aku melirik beberapa tas tangan yang berjejer pada salah satu etalase. Tas-tas dari bahan sintetis yang akan banyak kita jumpai pula di kaki lima emper jalan atau statiun kereta.

”O, kirain ngambil dari Bogor ,” tukasku mengingat pada produsen tas di Tajur Bogor.

Kuamati bandrol harga yang terpasang pada salah satu tas. 8.000 rupiah. Gosh! Berapa biaya produksi yang dikeluarkan untuk sebuah tas berharga jual 8.000 rupiah? Aku tak tau. Harga yang terpasang pun masih belum harga pasti. Sebuah tas rajut berhasil kumiliki setelah menawar dengan selisih harga lima ribu dari harga asal yang ditawarkan.

”Pajak disini kecil ya bang?” Adikku mencoba merasionalisasi. Ia tampaknya terkejut-kejut juga dengan harga jual barang-barang disini.

”Iya. Kalau disini gak terlalu gede. Kita punya 6 stand disini. Di statiun skylife sama depan sana dekat pintu masuk utama juga ada. Kalau yang disana pajaknya lebih gede. Harganya juga beda sama yang disini. Mas tanya aja. Harga disono bisa dua kali lipet disini.”

Kami terus ngobrol. Kadang kutanggapi dengan tak serius. Ku pikir ia hanya butuh teman karena sendiri menjaga tokonya. Beberapa terputus oleh kedatangan pengunjung lain yang menawar harga. Atau kesibukannya berbenah memberesi barang agar tak terkena tempias hujan.

”Gak dipasangi krey bang?,” tanyaku melihat kerepotan yang harus ditanganinya.

”Gak boleh mbak. Ya begini lah. Ini masih untung ujannya gak seberapa. Kemarin waktu ada angin kenceng lumayan repot lagi. Bangunan aja banyak yang rusak”.

”Tapi ujan gini lumayan rame ya? Banyak yang mampir…”, pancingku

“Sekarang ma jamannya lagi susah mbak. Apa-apa susah. Semua harga-harga naik. Ini Taman Mini aja udah mau bangkrut. Kemarin tu buat bayar listrik skylife aja sampe 300 juta. Itu untuk skylife doang.” Ia menunjuk pada kereta gantung yang hilir mudik lewat diatas kami.

”Jujur ni menurut saya, lebih enak jaman Suharto kemarin. Makan gak susah. Cari kerja gampang…”

Aku tak menanggapi omongannya. Anganku berlari pada beberapa kerusakan gedung yang sempat ku jumpai saat berkeliling tadi. Juga harga kacis masuk yang terus bergerak naik. Kemegahan itu tampak mulai goyah. Beberapa gedung rusak tak terawat. Tak mampu mengahadapi amuk cuaca dan biaya perawatan yang terus melambung.

Dulu, untuk melakukan olahraga pagi orang bebas masuk. Karcis masuk baru akan diberlakukan diatas jam tujuh pagi. Perlahan mulai diberlakukan karcis masuk untuk olahraga pagi dengan harga yang berbeda dengan tiket masuk biasa. Mula-mula dikenakan seribu rupiah perorang, lalu naik menjadi dua ribu, sekarang tiap orang dikenakan tiga ribu rupiah. Itu belum termasuk dengan kendaraan yang akan kita bawa masuk. Lewat jam tujuh tentu harga lebih melambung lagi. Tahun lalu aku sempat tau harganya 8.000 perorang untuk tiket masuk. Tahun ini mungkin sudah berubah lagi. Tiket masuk pun tidak menjamin kita bebas masuk ke semua gedung yang ada di Taman Mini ini. beberapa musium dan tempat pertunjukan masih mengharuskan kita membayar tiket lagi bila kita ingin tau isi didalamnya.

***

”Neduh aja disini dulu, mbak”. Dengan gaya yang masih ramah ia membuyarkan lamunanku.

Aku sebenarnya mulai bosan dengan perut yang mulai meronta minta diisi. Tapi tak kutampik tawarannya. Aku duduk pada salah satu lantai yang disisinya telah ditutup plastik. Seorang perempuan bule bersama seorang guide sempat berteduh. Aku sempat mendengar beberapa penjelasan yang disampaikan guide pada sang turis. Ah, penjelasan yang salah kaprah. Ia katakan tongkonan di daerah asalnya merupakan tempat tinggal dengan bentuk yang lebih besar dan panjang. Yang tampak di depan ini hanya contoh saja. Tapi sudahlah. Aku tak perlu menjadi pahlawan kesiangan dengan mendebat sang guide bahwa bentuk yang sekarang terlihat benar-benar seperti aslinya dan ia hanya dimaksudkan sebagai lumbung penyimpan beras dan bukan rumah tempat tinggal kan? Kebodohan hanya milik para turis dan siapapun yang mudah percaya tanpa mau repot dan susah payah mencari tau informasi yang sebenarnya.

”Gak ditawarin barang, bang, bulenya?,” aku bertanya begitu sang turis bergegas pergi.

”Ah sekarang mah susah mbak. Guide-nya juga kebanyakan rese-rese. Sekarang kalo mau bawa turis belanja langsung ke Pasaraya atau kemana gitu. Dulu sempet kita ada kerjasama sama guide. Kalo ada turis belanjanya disini. Biasanya bisa sampe ratusan. Trus mereka dapat bagian. Sekarang gak lagi. Ada peraturannya mbak. Gak boleh gitu lagi. Mungkin ada yang ngelaporin kita.”

Guide-nya juga ngaco tuh ngomongnya”, aku menimpali keluh kesahnya.

”Jadi guide mah gampang mbak. Asal berani, pinter ngomong Inggris, trus tau dikit soal Taman Mini, beres. Temen saya juga ada yang jadi guide. Tapi gak disini. Di Bali sono. Tapi di Bali mah jadi guide juga kerjaan sampingan aja. Tau sendiri kerjaan aslinya apaan…,” ia tertawa.

***

Awan masih muram. Hujan masih deras mengucur. Kami masih ngobrol tak tentu arah. Menanyakan asal usul, tempat tinggal, sampai…

”Saya juga dulu sempet jadi timer di perempatan Jalan Baru,” potongnya saat kukatakan bahwa aku tinggal di Kampung Rambutan. Jalan Baru merujuk pada jalan dekat terminal Kampung Rambutan tempat bus dan angkutan dalam dan luar kota hilir mudik masuk.

“Saya dulu nakal mbak. Sekarang mah udah mendingan. Ada keluarga soalnya. Istri saya dua lho mbak…”

Aku terkesiap. Kalau saja kalimat terakhir itu diucap oleh seorang pengusaha muda yang sukses tentu aku tak bereaksi apapun. Paling hanya akan mengumpat dalam hati, ”Dasar laki-laki!”

Tapi kalimat itu baru saja keluar dengan entengnya dari mulut seorang penjaga toko dengan penampilan yang sama sekali tak meyakinkan.

Awalnya aku malah menyangka ia masih membujang. Usianya malah kupikir masih dibawahku. Dengan rambut agak gondrong, kulit yang agak gelap dan tubuh yang jauh dapat dikatakan sebagai atletis. Dengan seragam batik yang dikenakannya ia pantas berlaku sebagai pemuda yang baru menetap di Jakarta dari suatu daerah dipelosok Jawa sana.

”Kuat ya mas punya istri dua,” tanyaku heran mengacu pada penghasilannya yang paling tak seberapa.

”Ya pintar-pintar ngebagilah…”

”Istri kerja?,” tanyaku lagi

Ia menjawab ya tanpa sempat ku tanya apa pekerjaannya.

”Tapi ada sejarahnya mbak…”

Sejarah? Aku hanya bertanya heran.

”Yang pertama itu dulunya Nasrani trus saya kawinin supaya masuk Islam. Kedua ini tadinya juga anak nakal. Bandel gitu. Punya anak tapi bukan sama saya. Terus saya kawinin juga. sekarang punya anak dua. Yang satu anak saya.”

”Yang pertama gak ngamuk waktu tau kawin lagi?”

”Ya ngamuk lah. Namanya orang mana ada yang mau dimadu. Sekarang dia tinggal sama orang tua saya.”

”Punya anak berapa?”

”Kalo sama yang pertama gak punya. Saya juga sebenarnya gak cinta banget sama yang pertama.”

”Kalo gak cinta kenapa dulu dikawinin?,” gugatku.

”Ya biar masuk Islam..,” lagi, ia menjawab enteng.

Aku pusing. Mudah sekali laki-laki memutuskan untuk mengawini perempuan lebih dari seorang. Dengan beragam alasan. Dengan beragam kapasitas dan profesi yang mereka miliki. Tak perlu sekaliber Hamzah Haz yang biaya hidupnya sempat difasilitasi negara untuk punya istri banyak. Aku teringat pada tetanggaku yang supir cabutan atau pedagang kambing musiman yang biasanya kelimpahan rezeki hanya pada hari raya kurban. Mereka pun ternyata beristri dua.

“Nakal ya saya mbak? Dulu lebih lagi. Namanya anak kolong. Saya kan tinggal di Halim. Sekarang mah udah mulai sadar.”

Aku tertawa saja mencoba tak menghakimi.

“Emang gaji berapa?”

“Ya kalo ini ma kecil mbak. Sebulan 400 (ribu).”

”Terus kerja lain?”

”Kalo malem saya kadang masih jadi timer. Itu gede mbak. Seratus ribu setengah jam juga bisa kalo mau. Tapi itu uang panas mbak. Saya gak kasih buat kluarga. Yang 400 ribu itu aja dibagi dua.Bisa disumpahin supir-supir nanti. Mereka rata-rata kan gak rela ngasih uang itu. Buat senang-senang aja.”

”400 ribu itu bersih?”

”Bersih. Sehari saya dikasih transport 50.000. Kalo rame bisa 150.000. Tapi itu buat saya aja lho. Yang lain paling 20-30 ribu. Saya sama bos mah udah begini mbak,” ia mengaitkan dua telunjuk pada jari kanan dan kirinya.

"Karena dia tau abang istrinya dua ya?,” godaku

”Ah kalo itu dia mah emang tau. Dia itu temen saya dari masih susah. Sama-sama bandel juga. Dulu kemana-kemana kalo cari barang ngajak saya. Kalo ke Jogja nginep di hotel. Tau sendirilah disana trus ngapain…”

”Kalau anak buahnya aja istrinya dua, bosnya istrinya berapa bang? Empat?,” goda ku lagi.

”Ah kalo dia mah cuma satu.”

”Itu yang ketahuan ya…,” adikku menimpali.

”Iya. Yang saya tau,” ia tertawa.

”Umur berapa bang? 25?,” aku bertanya menuntaskan rasa keingintahuanku.

”30 mau 31. Mbak?”

”28.”

”Seumuran istri saya yang pertama. Kalo yang kedua lebih muda. 25. Tapi emang dia bandel dari mudanya. Bayangin aja belum kawin udah punya anak. Saya kawinin aja biar gak kayak dulu lagi. Saya juga kalo inget yang dulu-dulu udahlah. Sekarang mau kerja yang bener buat keluarga…”

Aku tertawa. Entah untuk apa. Untuk segala keabsurdan yang ku temui siang itu. Aku melirik jam yang melingkar di tangan adikku. Jam dua siang. Hah, kami harus pulang. Kami telah meninggalkan rumah sejak pukul setengah enam pagi tadi. Perut ini tak bisa lagi diajak kompromi. Obrolan ini harus segera diakhiri. Meski aku tau, it’s not the end story. Basah hujan masih menyisakan titik-titik gerimis. Aku teringat dengan film terbaru garapan Nia Dinata yang belum lagi aku tonton penuh. Tentang cinta yang harus dibagi. ”Berbagi suami”.

Ah, apalah artinya cinta…

BATANG-PEKALONGAN

September 15th, 2005 by syafa

Bila diurut kacang dari arah Jakarta, kota Batang berada pada urutan kemudian setelah Pekalongan. Meski begitu, bila kita naik pesawat sampai Semarang, transportasi yang tersedia untuk mencapai Batang akan merujuk ke arah Pekalongan baru kemudian ke Batang. Orang juga sering salah mengira Batang merupakan bagian wilayah dari Pekalongan. Sama salahnya dengan asumsi saya sebelum mengunjungi kota kecil ini. Padahal dua kota ini merupakan dua kabupaten yang berbeda. Meski jaraknya dekat saja. “Sepelemparan batu”, begitu barangkali orang sering memberi analog. Atau tak sampai setengah jam untuk melewati dua kota ini dengan kendaraan bermotor.

Memang nyaris sulit mencari khas yang dapat membedakan Batang dan Pekalongan. Kecuali Pekalongan yang lebih ramai, tak ada perbedaan yang berarti antara dua kota ini. Perbedaan yang saya maksud berkaitan dengan adat dan budaya masyarakatnya. Pekalongan memang merupakan salah satu daerah gemuk di jalur pantura Jawa ini. Banyak transportasi tersedia untuk jalur ini. Bus atau kereta api. Dengan pilihan waktu yang tak terbatas bahkan sampai tengah malam sekalipun. Untuk kereta api kelas eksekutif jurusan Jakarta-Semarang atau Surabaya sekalipun rasanya memerlukan untuk menyempatkan diri singgah di stasiun kota ini. Saat-saat long weekend seperti yang kali ini saya temui, hampir dapat dipastikan tiket terjual habis dengan harga yang membubung. Dan Batang nampaknya dapat sedikit menarik berkah dari keramaian yang ditangguk kota tetangganya ini.

***

Saya berkesempatan mengunjungi kota ini saat diundang untuk menjadi pembicara suatu diskusi yang diselenggarakan KPUD-DPRD Batang, Sabtu, 23 April lalu. “Diskusinya para pejabat”. Demikian saya memberi istilah dalam hati saat saya tahu yang hadir adalah para penggede wilayah itu. Mulai dari Bupati dan DPRD-nya, sampai Korem yang hadir saat ini. “Ini diskusi dalam rangka menghabiskan anggaran, mbak,” bisik teman yang siang sebelumnya menjemput saya di stasiun. Tanpa mengurangi rasa kagum saya pada inisiatif penyelenggaraan acara ini, awalnya saya memang merasa surpraise dengan kehadiran para pejabat ini. Belakangan saya tau kehadiran mereka berkaitan dengan daftar hadir dan pesangon yang diterima. O..ouw…

Di waktu senggang sebelum acara dimulai, saya sempat berkunjung ke salah satu jaringan yang menjadi narasumber penelitian kami di Jakarta. Saya diajak ke Bandar, salah satu kecamatan di Batang yang letaknya di pegunungan. “Ke atas”, begitu orang sekitar sering mengistilahkan. Sesungguhnya ini wilayah yang indah. Hawanya sejuk, dengan panorama yang menyegarkan mata. Tanah perkebunan terhampar berhektar-hektar. Sayang banyak kasus disini. Terutama berkaitan dengan penduduknya yang kebanyakan petani. Hampir senada dengan kisah-kisah yang terjadi wilayah lain di negeri ini, hamparan tanah hijau nan luas itu bukan milik mereka. Tapi milik negara dan pemda yang diwakili oleh PTPN bahkan juga menjadi mesin uang bagi sebuah universitas terkemuka di Jogja. Bagi yang pernah mendengar kasus Pagilaran, tentu akan mafhum bagaimana ketidakberdayaan para petani berhadapan dengan para pemodal. Kisah sedih yang menyisakan semangat perjuangan yang ditinggalkan salah satu petani yang sore itu saya temui.

Saya diajak mampir ke rumah salah satu penduduk yang berhasil mendapatkan kembali tanah mereka. Sebuah bangunan sederhana dari kayu yang ditinggali oleh keluarga petani dengan lima anak mereka yang masih kecil-kecil. Saya pandangi tatap mata polos bocah-bocah yang sore itu sempat mengerubungi saya. Mencium tangan saya setelah sebelumnya mencium tangan mas han narasumber saya yang juga menjadi tokoh masyarakat ini (cerita tentang laki-laki ini baiknya saya simpan untuk kali lain saja).

***

Karena jaraknya yang hanya ”sepelemparan batu”, sore usai diskusi, saya sempatkan diri untuk shopping di pasar grosir pekalongan. Berburu batik di Pekalongan memang menjadi salah satu tujuan utama saya ketika memenuhi undangan ke kota ini. Dibanding pasar batik di Klewer, Solo, berikut perbedaan-perbedaan yang saya temui: batik Pekalongan lebih beragam coraknya. Dengan warna-warna yang lebih berani dan memikat. Disini, saya pun kesulitan mencari pakaian perempuan berlengan pendek pesanan seorang teman di Jakarta. Hal yang sungguh berlawanan saat saya justru sulit mencari blus berlengan panjang saat di Klewer. Mungkinkah hal ini dipengaruhi oleh aura keberagamaan penduduk Pekalongan yang lebih santri? Entahlah. Soal harga? Rasa-rasanya saya merasa lebih enjoy menawar dengan harga yang murah meriah saat di Klewer.

Oh ya, saya juga sempat makan lesehan di alun-alun Pekalongan. Soal alun-alun, saat malam sebelumnya saya lesehan di alun-alun Batang saya baru menyadari bentuk alun-alun yang nyaris seragam di beberapa wilayah Jawa. Hampir dapat dipastikan alun-alun menjadi bagian dari pusat kota yang di apit oleh bangunan mesjid, rumah atau kantor pejabat, dan penjara dengan pohon beringin yang tertancap kokoh di tengah alun-alun. Menurut teman ngobrol saya malam itu, ini khas dari daerah bekas jajahan Mataram. Saya tak mengerti persis sejarah Mataram dan tak bertanya lebih lanjut tentang pakem-pakem Jawa berkaitan dengan alun-alun. Kalau diterka artinya kira-kira pusat kekuasaan tak jauh dari syariat yang mengukuhkan kekuasaan dan alun-alun menjadi ajang legitimasi penguasa mempertontonkan pada khalayak dalam memberi ganjaran orang-orang yang dianggap bersalah.

Saya nikmati ramainya pasar rakyat di Sabtu malam itu. Sambil makan lontong sayur yang sungguh dahsyat. Benar-benar dahsyat dan ini bukan sekedar hiperbola semata. Selain nasi Megono yang malam sebelumnya sudah saya nikmati di Batang, lontong sayur ini layaknya menjadi makanan khas yang tak terlupakan. Sebelum berkisah tentang lontong sayur yang sempat membuat saya terbayang-bayang dan ingin kembali ke Pekalongan, ada baiknya saya ceritakan dulu apa itu nasi Megono. Ini istilah yang dialamatkan pada nasi dengan aksesoris sayur nangka muda kering yang diiris halus dan ditabur diatas nasi lalu di”pincuk” dengan daun pisang. Sebagai pelengkap ada pepes ikan pindang dan tempe mendoan sebagai lauk tambahan. Porsi nasi ”pincuk” ini tanggung untuk ukuran orang yang doyan makan seperti saya. Maka, meski rasanya biasa saja, malam itu saya menghabiskan satu setengah bungkus nasi Megono.

Adapun soal lontong sayur, ini bukan sekedar lontong sayur seperti yang biasa saya makan di Jakarta. Di Jakarta, lontong atau ketupat sayur ini biasanya merupakan irisan ketupat yang disiram dengan sayur santan berisi kacang panjang atau labu siam yang dipotong halus dan berkuah encer. Pilihan aksesoris yang ditawarkan paling banter tahu atau telur bulat yang direbus. Di Pekalongan atau Batang, lontong sayur yang ditawarkan bersayur opor dengan hidangan ayam kampung yang bisa kita pilih bagian dari potongan ayam mana yang kita suka. dengan kuah santan yang kental. Benar-benar yammi… saya nyaris menambah satu porsi bila tak ingat perut yang telah sesak dan tak ingin bermasalah saat di kereta yang malam itu akan mengantar saya kembali ke Jakarta.

Meski begitu, agak sulit mencari penganan khas yang dapat dijadikan oleh-oleh saat kita berkunjung baik ke Batang atau Pekalongan. Sebagaimana khas daerah pantura, penganan yang dapat dirujuk paling banter adalah ikan asin atau kerupuk udang. Dari segi kepraktisan, tentu orang akan enggan membawanya. Seorang teman yang malam itu mengantar saya ke stasiun sempat menyebut kata ”keripik tahu”. Namun saya tak sempat lagi memburunya karena waktu yang mepet dan banyak toko telah tutup diwaktu yang telah menunjuk hampir pukul setengah sebelas malam itu.***

Kisah dari Palangka

September 9th, 2005 by syafa

Pesawat_1KEBERANGKATAN:

nyatanya saya harus mengalami adegan "pacar ketinggalan kereta" kamis 17 juli 2003 lalu. karena hanya ada satu penerbangan dalam satu hari menuju palangka saat itu. saya sempat panik meski akhirnya saya bisa mendapatkan jadwal keberangkatan keesokan harinya. sekedar informasi, penerbangan jakarta palangka raya saat itu hanya dikuasai oleh pesawat merpati yang melakukan sekali penerbangan dalam sehari. take off pukul 12.00. alternatif lain yang dapat dilakukan adalah melalui banjarmasin. dan jam keberangkatan dapat dipilih hingga sore pukul 15.00. dari banjar dapat dilanjutkan dengan travel seharga 35 ribu-an dengan lama perjalanan sekitar 2-3 jam menuju palangka.

Info lain yang tak kalah penting: awalnya peringatan untuk hati-hati terhadap kemungkinan

mendapat pesawat yang bocor saya anggap sebagai joke belaka. nyatanya siang itu

para penumpang dibuat sibuk dengan aktifitas mengelap langit-langit kabin.

Beberapa penumpang terpaksa berdiri karena tempat duduk mereka basah dengan

rembesan air ac yang mengalir cukup deras.

PALANGKA RAYA:

sebuah baliho besar menyambut kedatangan saya. SELAMAT DATANG DI KOTA CANTIK PALANGKA RAYA. kota ini memang pernah mendapat predikat sebagai kota paling rapi di indonesia. Tak heran. Wilayahnya luas dengan jumlah penduduk yang masih dapat diatur tingkat huniannya. Kota ini sepi. bangunan-bangunan cantik dengan ciri ornamen-ornamen perisai khas dayak menghiasi arsitektur gedung. Gedung tertinggi (hanya) berlantai lima. Saat itu ditempati Bank Pembangunan Daerah. Selebihnya jarang terlihat posisi gedung dengan bentuk tersusun ke atas. Termasuk hotel terbaiknya. Lebih mirip sebuah losmen.

Malam hari saya minta diantar untuk melintas jembatan merah yang siang itu terlihat dengan jelas dari pesawat beberapa saat sebelum landing. Warna merah menyala pada sisi jembatan begitu menggoda. Jembatan yang melintas sungai kahayan ini masih baru. Orang-orang menyebutnya sebagai san fransisco-nya palangka. Megawati konon meresmikan pembukaan jembatan ini 9 bulan yang lalu. Meski jembatan ini belum berfungsi benar sebagai alat transformasi. Ia lebih difungsikan sebagai tempat nongkrong baru penduduk sekitar. ketimbang sebagai alat hubung antar wilayah.

Suasana malam di jembatan saat itu ramai. Orang lebih suka duduk-duduk sambil menikmati suasana malam yang remang-remang. Sebuah iring-iringan kayu sempat terlintas disungai. Ini bagian dari ilegal logging yang banyak berpraktek disini. Konon, pengangkutan lebih sering memilih jalur malam

karena alasan keamanan.

Harus diakui, tak banyak bisa diharap dari tokoh-tokoh prodem disini. Jumlah aktifis dapat

dihitung dengan jari. Menjadi pegawai negeri menjadi prestise. Tak heran banyak

orang-orang muda yang lebih memilih STPDN sebagai ajang kompetisi bergensi

untuk dapat menjadi bagian dari aparatur negara. LSM-nya cenderung homogen.

Lebih banyak mengurus soal lingkungan. Jaringan aktifis belum terjalin baik.

Agak sulit mencari orang-orang kritis dan idealis. Entah berpengaruh atau tidak, menurut info asisten lokal yang saya temui, hal itu diperlemah dengan tak adanya jurusan ilmu politik disini. Pun di perguruan tinggi terbesarnya universitas palangka raya.

SAMPIT:

saya memutuskan untuk singgah ke sampit sebelum kembali. Meski sudah diwanti-

wanti tentang kondisi perjalanan yang tak mudah dilalui. Perjalanan dapat

dilalui dengan bus atau travel. Dengan lama perjalanan 4-5 jam kalau lancar.

Saya memilih travel dengan kendaraan jenis kijang. Ongkos sekali perjalanan 40

ribu + seribu sebagai asuransi (entah jaminan apa yang bisa didapat dgn

asuransi sebesar itu). Jalan bergelombang. Lumayan membuat badan pegel linu dan

isi perut terkocok. Beruntung saya telah membekali diri dengan akar pasak bumi

yang terkenal khasiatnya itu.

Omong-omong tentang pasak bumi, ada cerita menarik. Mathius dan Agro telah bermurah hati mengantar saya mencari ramuan yang asli. Karena ramuan yang banyak dijual di toko-toko itu belum tentu asli. Yang disebut dengan pasak bumi adalah sejenis kayu yang dikemas dalam bentuk yang telah diserut. Mirip ampas kayu. Di rumah penjual itu saya disambut ramah. Boleh mencicipi madu asli hutan yang hitam pekat. Namun tak boleh mencicipi pasak bumi. Hanya Mathius dan Agro yang kebetulan berjenis kelamin laki-laki saja yang boleh. Saya tanya mengapa? Tak ada jawaban pasti. Kecuali bahwa pasak bumi memang dikenal sebagai obat kuat bagi para lelaki.

Tapi malam itu setiba di sampit saya nekat meminumnya. Sedikit irisan yang saya campur air dalam botol kemasan (saran penyajian yang sesungguhnya adalah direbus). Rasanya pahit luar biasa. Entah karena sugesti entah memang nyata khasiatnya, badan yang rasa tak keruan selama perjalanan menjadi lebih nyaman setelah meminum "ramuan".

Sampit Dibanding palangka, sampit lebih ramai. Konon kota inilah yang awalnya akan

dijadikan sebagai ibukota. Ada pelabuhan yang membuka jalur langsung pelayaran sampit-surabaya. Bekas-bekas kerusuhan dua tahun lalu tak lagi nampak. Saya sempat mengunjungi makam para korban yang jumlahnya mencapai ratusan. Namun hanya lima makam bernisan yang nampak sebagai simbol. Dalam perjalanan menuju makam juga dibangun sebuah tugu peringatan. Terbuat dari kayu setinggi mencapai 10m dengan artefak-artefak khas dayak. Diujung tugu bertengger miniatur burung tingang simbol khas dayak yang dipercaya sebagai nenek moyang mereka. Di makam ini pula saya sempat mengambil gambar. Teman seperjalanan saya sedikit menggoda, nanti kalau dalam proses pencetakan muncul gambar lain, saya tak bertanggung jawab, begitu katanya. Konon banyak kisah-kisah misteri muncul disini. Karena banyak mayat yang dikubur dengan organ tubug yang tak lagi lengkap.

Di sampit saya juga bersilaturahmi dengan kumpulan anak-anak muda kreatif yang

hobi bikin film. “Daun” (green leaf) nama komunitas mereka. Lebih dari tujuh

film mereka hasilkan sejak berdirinya tahun 2001 lalu. Film-film dokumenter ini

sengaja dibuat sebagai bentuk penyadaran pada masyarakat. Masyarakat disini tak

suka membaca. Maka kami pilih media visual dalam program kami. Begitu cerita

salah satu personilnya. Saya sempat menikmati karya mereka. Tentang kabut asap

yang menjadi agenda tahunan di kalteng, juga praktek-praktek ilegal logging di

hutan lindung tanjung puting. Film-film mereka menarik. Mengingatkan saya

pada “visi anak bangsa” dan yayasan SET yang banyak memproduksi hasil-hasil

serupa.

malam itu saya habiskan di kantor mereka yang lebih menyerupai base camp sebelum kembali ke palangka keesokan harinya.

Tue, July 22, 2003

13:36

                 

Pontianak

July 20th, 2005 by syafa

KEDATANGAN: mendung menyambut begitu saya tiba di pontianak jumat pagi itu. suasana muram. bangunan kota tampak suram. Hujan memang sedang bermurah hati di kota ini. Dalam sehari ia bisa datang 2-3 kali. Dan kedatangannya selalu serius. Selalu dalam bentuk hujan besar. namun begitu, cukup banyak pemandangan dapat dilihat dalam perjalanan dari bandara menuju kantor Kalimantan Review (KR) yang terletak di daerah Siantan. Ada gedung DPRD, kantor gubernur, bahkan jalan tol.

haha.. jangan membayangkan jalan tol seperti jalan saling tumpuk yang ada di jakarta. jalan tol cuma sebutan untuk jembatan yang menghubungkan antar daratan yang dipisah oleh sungai. ada dua jalan tol yang saya lalui. jalan tol sungai kapuas yang lebarnya mencapai lebih dari 30 kilo dan jalan tol sungai landak yang merupakan anak sungai kapuas.

Masih ada pemandangan lain. Kalau anda beruntung melewati Siantan di pagi dan sore hari akan menjumpai pemandangan menarik ini. Para warga yang asik mandi dan mencuci di parit sisi jalan. Parit ini berisi air menggenang. Terletak persis diantara halaman depan rumah penduduk dan sisi jalan raya. Mereka tampaknya cuek saja mandi dan mencuci dengan pakaian seadanya. Juga cuek dengan kondisi air yang pekat. Beberapa telah ditumbuhi gulma. Air tanah di Kalimantan memang tak bisa diharap berwarna jernih. Konon pengaruh tanah gambut. Tanah gambut pula yang sering menjadi pemicu kebakaran. Karena orang harus membakarnya terlebih dahulu sebelum di olah dan ditanami. Namun hasil pembakaran ini menjadi lahan yang subur bagi tanaman.

SIANTAN; Salah satu wilayah yang terkenal di Siantan adalah Jagung Bakar. Dari namanya mudah ditebak kalau disini banyak penjual jagung bakar. Tapi ada yang unik. Para penjual jagung bakar itu juga menjual es lidah buaya yang suegar luar biasa. Es ini diolah dari lidah buaya yang besarnya juga menakjubkan. Baru kali itu saya lihat lidah buaya sebesar lengan orang dewasa. Lidah buaya ini di ternak dengan bibit khusus. Sayang minuman yang berkhasiat untuk menyembuhkan panas dalam dan menghaluskan kulit ini masih diolah secara tradisional. Padahal ia dapat menjadi komoditas yang menjanjikan. Masih sulit orang membawa keluar dari pontianak sebagai oleh-oleh karena tak dikemas secara khusus.

PONTIANAK: Kota ini sungguh hidup. Meski tak berarti, kemacetan tampak di sana-sini. Kota multi etnis ini didominasi oleh orang melayu, dayak, bugis, jawa, tionghoa dan madura. Empat etnis terakhir kecil saja prosentasenya. Namun mereka yang banyak memegang perekonomian Pontianak. Jabatan elit menjadi wilayah tarung dua etnis yang pertama.

Biaya hidup disini sungguh mahal. Taksinya tak berargo. Harga sesuai consensus. Tarifnya antara 35-40 ribu sekali perjalanan. umumnya berupa mobil pribadi sejenis “kijang” yang disewakan. Taksi kijang ini operasikan berdasarkan system sewa. Seorang supir taksi menjelaskan ia hanya perlu menyetor uang bersih satu juta tujuh ratus lima puluh ribu sebulan. Sementara mobil bebas berada ditangannya 24 jam. Dengan biaya ringan itu ia menyebut transaksi ini sebagai perjanjian persaudaraan.

Harga lain yang membuat saya takjub saat saya membeli refill kaset untuk rekaman. Harga sebuah kaset kosong yang di jakarta hanya 8.500,- menjadi dua kali lipat di sana. Pontianak juga sering banjir buah. Waktu saya tiba, mangga melimpah dimana-mana. Ini sebenarnya buah impor dari jawa. Buah aslinya sendiri, jeruk pontianak yang terkenal itu, baru akan musim pada bulan-bulan awal tahun.

Bagaimana kondisi sospol kalbar? Saya sempat mewawancarai John Bamba, petinggi KR, Abdul Syukur, tokoh madura yang disegani, dan chairil effendi, akademisi dari UnTan (universitas Tanjung Pura). Saya harus membuat tulisan khusus tentang ini. Namun secara umum Kalbar penuh potensi konflik. Ditingkat elit, persaingan terjadi antara melayu-dayak. Ditingkat grassroot konflik antar etnis tetap menjadi bahaya laten. Yang masih agak mengkhawatirkan belum banyak lembaga yang berkonsentrasi penuh untuk manajemen konflik dan upaya-upaya rekonsiliasi. Di Sambas, larangan bagi orang madura bahkan masih berlaku hingga kini.

Meski telah banyak riset dilakukan, sesungguhnya isu etnis, masyarakat adat, dan sumber daya alam menjadi isu yang tetap menarik di Kalimantan. Saya sendiri bila masih diizinkan ingin lebih mendalami isu masyarakat adat untuk tahapan riset selanjutnya (hehe…boleh gak sih…?!)

Kalbar4PENGUNGSI MADURA: Hari terakhir menjelang kepulangan saya kembali ke Jakarta saya minta diantar melihat salah satu pemukiman orang-orang madura eks pengungsi dari Sambas. Dibanding para pengungsi di Kupang yang pernah saya kunjungi, hidup mereka jelas lebih baik. Tapi ini bila dilihat dengan kondisi yang saat ini saya saksikan. Sebelumnya, mereka tinggal di kamp-kamp pengungsi yang tersebar di pontianak dengan kondisi yang menyedihkan. Setelah melewati proses tawar-menawar yang cukup lama, mereka menempati beberapa pemukiman yang tempatnya pun tersebar di wilayah-wilayah tertentu.

Saya diantar kesalah satu pemukiman yang letaknya tak terlalu jauh. Ah, sebenarnya lumayan jauh juga. Letaknya dipinggir kota pontianak. Hampir memasuki perbatasan yang menghubungkan pontianak dengan wilayah pedalaman. Sambil menyelam minum air, rute ini pun melewati tugu khatulistiwa yang terkenal itu.

Kalbar3 Mereka menempati pemukiman ini dengan cara membeli tanah. Uang membeli tanah didapat dari pemda. Satu KK mendapat jatah 2-5 juta. Dengan uang itu mereka membeli tanah dan bahan bangunan. Rata-rata bangunan berbahan papan yang perlembarnya dibeli mencapai harga lima ribu rupiah. Pemukiman ini dihuni sekitar 700 kk. Sebuah pemukiman yang cukup luas. Dan ini bukan satu-satunya. Masih ada pemukiman lain. Satu yang sering disebut adalah Tebang Kacang. Kantong-kantong pemukiman yang terkonsentrasi di wilayah tertentu sebenarnya menimbulkan masalah baru. Orang-orang madura ini akan menjadi semakin eksklusif. Upaya pembauran antar warga nampaknya mengalami persoalan yang masih belum terpecahkan.

Nampaknya untuk mengantisipasi keamanan, pemukiman yang saya kunjungi ditempatkan persis dibelakang komplek perumahan tentara setempat. Jalan masuk pemukiman masih berupa tanah becek yang disana-sini ditanam bebatuan. Kondisi ini jauh lebih baik. Sebelumnya, jalan masuk ini hanya berupa tanah yang akan merubah menjadi lautan lumpur bila hujan datang.

Kalbar2Anak-anak berpakaian sederhana yang ramai berkumpul di surau segera menyambut saya. Etos kerja orang madura yang ulet nampaknya terbukti disini. Setahun menempati wilayah ini, kehidupan mereka berangsur membaik. Meski seadanya, beberapa rumah tampak sudah dilengkapi perabotan. Padahal, mereka benar-benar memulai kehidupan mereka dari nol. Mereka meninggalkan Sambas hanya dengan selembar pakaian melekat dibadan. Dan ini kisah sebagian perjuangan hidup mereka. Anak-anak yang terpaksa putus sekolah, orang tua yang kehilangan pekerjaan dan harta benda. Diskriminasi yang masih terasa disana-sini. Beberapa mengaku mendapat upah pekerjaan yang dibedakan. Banyak juga yang jadi pengemis. Mereka mendapat jatah pasokan listrik yang harus dibayar dengan tarif yang mahal.

Tingkat pendidikan nampaknya menjadi problem utama mereka disini. Bisa lulus sekolah dasar sudah merupakan prestise. Selama ini mereka memang lebih banyak yang mengabil jalur pendidikan tradisional di pesantren-pesantren yang mereka dirikan. Religiusitas mereka kuat. Foto para ulama, imam dan syekh tampak menghiasi dinding rumah mereka. Dipemukiman itu nampak bangunan madrasah yang belum selesai dibangun. Harusnya ini bisa menjadi lahan penanaman ajaran pluralisme yang menghargai perbedaan adat, budaya, agama, dengan warga lain.

Obrolan sore itu tak bisa lagi saya perpanjang, awan hitam sudah menggayut, dan saya meninggalkan pemukiman diiringi rinai gerimis yang untungnya tak membesar. Malam itu saya pulang dengan kelap-kelip lampu yang menggantung sepanjang sungai kapuas…

Pontianak, 21 Oktober 2003

Angkot Ber-AC

July 19th, 2005 by syafa

TrukSiang ini saya merasa surpraise saat menaiki mikrolet 06 jurusan kp melayu-gandaria. Mikrolet ini merupakan mobil angkot dalam kota jenis kijang yang dicat warna biru muda (biru telur asin begitu banyak orang jakarta bilang).

Saat menyetop mobil, di kaca depan mobil memang saya sempat melihat tulisan ”AC” diantara kata kp melayu-gandaria. Namun saya pikir itu cuma guyon saja mengingat kata AC sering juga diplesetkan menjadi ”Angin Cepoi-cepoi”.

Begitu masuk mobil saya langsung terkejut mendapat jok mobil yang di set rapi dengan busa empuk yang di lapis beludru berbatik. Dan serr.. hembusan ac langsung terasa saat saya duduk di dalamnya. Wah baru nih… pikir saya. Setelah saya teliti mobil ini memang lain dari yang lain. Kaca-kaca jendela di set tertutup tanpa celah dan pintu samping mobil tempat keluar masuk penumpang bisa buka tutup otomatis (dikendalikan supir tentu…). interior mobil bersih. Tanpa tempelan sticker yang biasanya terpasang di sana sini… Iklan lowongan pekerjaan, pembuatan spanduk, atau tempat kursus yang biasanya di tambahi kata-kata ”bayarlah ongkos sesuai tarif” pada salah satu sisinya. Meski secuil iklan saya sempat dapati terpasang di salah satu ujung kaca belakang. ”Mobil eksekutif: telp. 747…..”

Nuansa khas lain yang saya dapati pada mobil ini adalah alunan lagu-lagu minang yang di remix dengan musik masakini. Lumayan juga, saya membatin. Kalau begini tak terasa panas dan macetnya jakarta. Saya nikmati perjalanan sambil memejamkan mata. Membayangkan berada dalam perjalanan di bukittinggi dengan bukit dan ngarai yang berjejer di kanan kiri…

Rupanya bukan cuma saya yang surprais dengan mobil ini. Seorang ibu yang menyetop dari cililitan sempat bertanya berapa tarifnya pada supir sebelum ia memutuskan masuk ke dalam mobil. "biasa kok", jawab penumpang lain yang duduk menghadap pintu.

"Baru ya bang?" masih dengan keheranannya si ibu bertanya.

Sang supir mengangguk.

"Emang gak bikin cemburu mobil yang lain?"

"Ya Biarin aja," supir menjawab terkekeh.

Si ibu masih terus berkomentar.

"Tapi enak juga sih. Jadi gak terasa panas. Kalo begini jakarta kan jadi besih. Harusnya diginiin semua aja ya. Diluar negeri kan kayak juga gini semua. Di malaysia aja udah kayak gini. jadi gak kalah sama busway ya… Lagian jadi gak ada yang ngerokok. Saya suka pusing kalo naik angkot panas-panas trus ada yang ngerokok. Ntar saya tandain deh mobilnya. Tapi, pasti lama nunggunya ya? Cuma satu mobilnya ya bang…?"

Beberapa komentar masih saya dengar sebelum saya asik melamun sendiri. Teringat angkutan di palembang dan manado yang rata-rata nyetel house musik keras-keras. Dengan sound yang pecah. Bikin pekak telinga.

Lalu berfikir, berapa pendapatan supir ber-ac ini ya? Apakah "cucuk" antara pendapatan dan pengeluaran? BBM sekarang kan lagi gila-gilaan. Belum lagi masa langka seperti sekarang. Saya hanya menduga-duga ini pasti mobil miliknya sendiri. Sehingga ia tak perlu pusing kejar setoran.

Lagipun dengan kondisi mobil yang lain dari biasa dia pasti agak pilih-pilih penumpang. Saya tak tau apakah ia juga akan menaikkan para mbok-mbok dengan karung belanjaan yang bisa dengan mudah di temui di sepanjang pasar induk kramat jati? dibanding dengan angkot lain, mobil ini memang tak seperti mobil lain yang ngetem menunggu penumpang.

Lamunan saya juga sampai pada pengalaman menggunakan mobil travel yang biasanya tak taat prosedur. Mobil memang menggunakan ac tapi kaca jendela kadang dibiarkan terbuka karena beberapa penumpang termasuk supirnya merokok. suasananya jadi tak karuan.

Dalam sebuah perjalanan menuju jogja saya bahkan pernah bersitegang dengan seorang penumpang saat ia asyik menghisap rokok sementara disebelahnya duduk seorang ibu dengan bayinya. kalau peraturan semua mobil angkutan ber-ac diterapkan belum tentu supir dan penumpangnya taat aturan. belum tentu juga kenyamanan akan didapatkan.

Belum sempat bertanya-tanya lebih jauh, semisal: berapa lama pak supir ini mulai menjalankan mobil barunya? apa yang membuat ia mempercantik mobilnya seperti ini? tujuan perjalanan saya telah tiba. pasar rebo-kampung melayu yang siang itu tertempuh dalam waktu sekitar 40 menit. bukan capaian waktu yang luar biasa sebenarnya. hanya lebih tak terasa dibanding naik angkutan lain.

Dan saya hanya sempat bertanya sesaat pada supir, "mobil sendiri ya pak?" ia mengangguk sambil menerima dua lembar uang ribuan yang saya angsurkan padanya.