Velkommen til Oslo
March 9th, 2009 by syafa
Saya mendapat kesempatan menjadi salah satu peserta internasional guest student di Universitetet i Oslo (UiO) untuk musim semi 2009 ini. Mengikuti kelas bertema demokrasi di negara-negara Scandinavia dan akan berlangsung selama kurang lebih 4 bulan di Oslo, Norwegia. Negara kaya minyak yang banyak dihindari orang (termasuk para bule yang memuja matahari sebagai dewa) karena dinginnya yang sering ekstrim.
Saya berangkat minggu ketiga februari lalu. Banyak persiapan teknis yang harus dilakukan. Yang paling berat dari semua itu adalah saat harus melakukan pengepakan. Ada dua packing yang harus dilakukan.
Pertama, packing pindahan dari rumah kos saya selama ini di Jl. Surabaya kembali pulang ke rumah orang tua saya di Kp. Rambutan. Pengerjaan yang membuat saya malas luar biasa. Mengingat barang-barang yang harus dipindahkan begitu banyaknya. Butuh satu minggu untuk berkemas.
Dalam keletihan pengemasan itu saya sempat dipusingkan dengan timbunan kantong plastik (baik berbentuk kresek atau kantong kertas yang lumayan bagus) bekas belanjaan saya. Beragam ukuran dan merek. Kebanyakan dari supermarket tempat saya biasa belanja bulanan (saya sempat menemui logo supermarket yang sudah tidak beroperasi lagi). Urusan kantong plastik yang bisa kita dapat dengan mudah saat berbelanja di Jakarta (atau Indonesia) ini nyatanya menjadi lain saat saya tinggal di Oslo kemudian.
Menit terakhir saya mendapat ide untuk membuat kategori kantong-kantong itu berdasarkan ukurannya. Dari yang S untuk ukuran 1-2 liter, M untuk ukuran 3-5 liter, l untuk ukuran 7-9 liter dan XL yang paling besar. Beberapa kantong yang bagus (terbuat dari kertas atau plastic tebal) saya kumpulkan terpisah. Semua kantong-kantong itu lalu saya serahkan pada ibu saya. Terserah dia akan diapakan nanti.
Pengepakan kedua yang tak kalah memusingkan adalah packing untuk kebutuhan hidup saya selama di Oslo. Saya sudah merencanakan akan membawa dua koper. Koper pertama untuk khusus untuk pakaian saya (saya banyak diingatkan untuk membawa baju hangat dan long john, pakaian melekat tubuh yang berfungsi sebagai lapis kedua underware) dan koper lainnya untuk beberapa bahan makanan saya.
Saya sudah membuat daftar. Kepusingan menghantam saat tau penumpang hanya diperbolehkan membawa maksimal 20 kg bagasi saja (dan KLM, si paus biru yang akan menerbangkan saya nanti dikenal tegas (atau pelit?) dalam soal kelebihan bagasi).
Alamak! Bagaimana mungkin? Koper isi pakaian saya juga sudah hampir 20 kilo. Lalu makanan-makanan ini?
Saya putuskan untuk bertahan dengan daftar bagasi saya. Saya tidak punya energy lagi untuk menyortirnya. Semuanya penting buat saya. Baju-baju hangat itu. Juga makanan-makanan itu. Saya tidak mau berjudi soal belanja di sana nanti.
***
Saya sempat merasa tenang saat bertanya pada petugas bandara berapa biaya over bagasi. Saya merasa masih mampu membayarnya. Ketenangan yang bersifat sangat-sangat semu. Karena nyatanya biaya yang harus saya bayar jauh melampaui dari informasi awal yang saya terima. Belum lagi insiden bongkar pasang bagasi yang cukup menguras emosi dan energi saya. Tapi sudahlah. Saya terikat janji untuk off the record urusan over bagasi ini.
Saya juga sempat merasa gemas saat tak mendapat tempat duduk barisan jendela. Tempat favorit yang selalu saya pesan kemanapun saya terbang karena saya dapat memaksimalkan fungsi kamera saya. Dan panorama lautan salju yang seharusnya bisa diabadikan menjelang pesawat mendarat di landasan akhirnya harus saya ikhlaskan untuk dilewatkan.
***
Saya membayangkan persis seperti ikan atau daging yang harus didiamkan di freezer dengan suhu maksimum agar tetap segar. Seperti itulah hari-hari saya selama di Oslo. Lautan es dimana-mana. Orang bahkan berselancar di danau yang telah padat menjadi daratan es dan tak mampu lagi menandakan manakah danau atau daratan. Banyak yang mengatakan Maret ini harusnya telah masuk musim semi namun nyatanya salju masih rajin turun. (Saya sempat tak habis pikir, orang kok bisa ya hidup di negara beku begini. Sialannya, kaya pula ;-P)
Hari-hari saya lalui dengan pendarahan di hidung. Tak parah (saya sempat menyaksikan perempuan bule dengan darah mengucur deras dari hidungnya). Juga batuk yang kadang mengulik kerongkongan saya. Dan bersyukur pada pertahanan bahan makanan yang saya bawa. Nyatanya belanja di sini juga cukup memusingkan. Selain harga yang pasti bikin pusing juga soal bahasa. Hampir dapat dipastikan semua makanan itu menggunakan bahasa norwegia pada labelnya.
Beberapa kerepotan yang pada akhirnya menjadi kebiasaan yang harus saya jalani di pembeku raksasa ini diantaranya:
1. Perlengkapan pakaian. Sekedar untuk mengunjungi teman yang berbeda blok tinggalnya atau membuang sampai dipekarangan harus mengenakan semua perlengkapan ini; jaket, penutup kepala (terutama telinga), sarung tangan, dan sepatu. Saya sempat merindukan hari-hari dimana bisa keluar rumah hanya dengan bersandal atau kaus melekat di badan.
Meski begitu, bukan berarti tak bisa bergaya. Saat nongkrong di seputaran kota yang dipenuhi dengan bangunan kuno dan mal-mal, ada peragaan busana musim dingin gratis yang bisa disaksikan dari orang-orang yang berlalu lalang. Juga di kampus. Jaket dan sarung tangan saja bisa beragam modisnya.
Saya terutama naksir berat pada sepatu-sepatu yang dikenakan (masalah yang langsung menghantam hari-hari pertama saya karena dua sepatu yang saya bawa dari Jakarta sungguh tidak apa-apanya. Saya sudah merencanakan untuk bercerita secara khusus pada sesi lain). Utamanya boot. Tampak kuat dan gaya.
2. Minum air keran. Kebiasaan yang sempat terasa aneh. Saat transit di Belanda saya sempat bertanya pada petugas dimana bisa mendapatkan air minum karena saya tak menjumpai kran khusus minum seperti yang bisa dengan mudah kita jumpai di bandara Singapura.
Petugas itu mengatakan, “anda bisa minum semua air keran di sini”.
Dan.. air keran itu adanya di toilet. Sempat merasa jijik namun lama-lama terbiasa juga.
Sekarang saya cuek saja masuk ke toilet membawa botol minuman kosong dan mengisinya dengan air keran sebagai bekal. Meski beberapa toilet di Oslo tidak bisa dimasuki dengan gratis (tak beda dengan Jakarta lah ;-))
3. Perkara membersihkan diri setelah buang air (kecil atau besar) dengan tissue.
Hampir dapat dipastikan tidak ada toilet yang menyediakan selang shower untuk berbilas. Termasuk di asrama tempat saya tinggal. Perkara yang membuat tak habis pikir. Berapa banyak tissue harus dihabiskan hanya untuk perkara cebok?
***
Sebagai negara welfare state yang dimakmurkan oleh minyak dengan pendapatan penghasilan penduduk yang tinggi membuat biaya hidup di Oslo disebut-sebut menjadi yang termahal di dunia setelah Tokyo. Harga kartu perdana local saya mengingatkan saya pada harga kartu perdana di Indonesia tahun 90-an. Mahal. Dengan isi pulsa yang cuma seperempat dari harga pembeliannya. Belum lagi harga makanan yang kalau di bandingkan atau di hitung dengan kurs di Indonesia cuma bikin sakit hati ;-p
Di luar itu, kemandirian warga negaranya juga sangat ditekankan. Salah satu professor saya mulai mengajarkan pelajaran pertama dengan membawa piring bekas makanannya ke bagian pembersihan piring, membuang sampahnya bila ada, dan mengelompokan alat-alat makan sesuai dengan jenisnya untuk kemudian dibersihkan. Anda dituntut bertanggung jawab dengan perbuatan anda sendiri.
Saat berbelanja di supermarket juga tak banyak pelayan tersedia. Paling-paling hanya kasir yang bertugas menyorot label barang yang anda beli. Beberapa malah menyorot label belanjaannya sendiri, menggesek kartu kredit atau memasukkan koin pada box yang tersedia dan menunggu krincingan kembalian bila ada, lalu mengatur sendiri barang-barang yang dibeli pada plastik yang sebelumnya juga akan ditanya terlebih dahulu, “Need a bag?”
Beberapa toko juga men-charge harga plastic yang akan digunakan sebagai tas belanjaan anda.
Semua tampak mandiri dan tersistemisasi.
Salah satu aturan dalam penyewaan kamar saya misalnya. Meski anda membayar sewa kamar (yang cukup mahal belum lagi hitungan terhadap konsumsi listrik dan pemanas), masalah kebersihan sepenuhnya menjadi tanggung jawab anda. Juga terhadap peralatan yang harus dipenuhi sendiri.
Kalau mau selebor bisa saja. Namun bersiap lah terhadap pemeriksaan yang kalau kebetulan menangkap ruangan sewa anda (terutama dapur) yang bersampah, anda akan disewakan seorang pembersih yang biayanya harus anda tanggung dan tidak murah tentunya.
Sama halnya bila anda sedang sial dengan tingkah alarm kebakaran yang sangat sensitive di kamar anda. Begitu ia meraung dengan beragam alasan (seringkali karena asap rokok di kamar) bersiaplah untuk membayar petugas pemadam kebakaran (yang meskipun hanya datang untuk mematikan alarm sialan) harganya hampir sama dengan jatah beasiswa saya selama tinggal di Oslo.
Atau dalam hal penggunaan transportasi publik yang terdiri dari subway (kereta bawah tanah), trem (KRL dengan hanya dua gerbong) dan bus. Tidak ada petugas loket. Tiket dapat dibeli ditoko atau lewat mesin. Anda masukan uang. Pencet beberapa tombol dan tiket akan keluar.
Kejujuran anda akan diuji lewat kemauan anda memasukkan tiket pada mesin tertentu yang akan menandai bahwa tiket sudah terpakai. Tidak ada petugas. Dan anda lagi-lagi bisa saja selebor. Namun kalau lagi sial tertangkap pemeriksaan yang dilakukan secara random ya bersiap saja menjadi bangkrut oleh denda yang dikenakan.
Kawan saya menyebut istilah “high trust society” untuk hal ini. Kejujuran dan tanggung jawab bukan lagi norma dan nilai (agama atau ideology) yang diajarkan hingga berbusa di sekolah namun terbawa angin begitu selesai pelajaran. Ia menjadi bagian dari keseharian. Anda lupa meninggalkan barang, insyaallah ia akan aman-aman saja. Orang tampak tak berniat memiliki yang bukan haknya.
Selain itu, penempatan posisi warga sipil yang tinggi juga tampak dari casualnya beberapa petugas yang kalau di Jakarta pasti sudah ingin tampil perlente dengan seragam. Petugas bank (beberapa diantara mereka hanya mengenakan kaus dan celana pendek). Juga pemeriksa tiket yang kebetulan saya temui pada sebuah subway. Tidak berseragam bahkan gaya pakaiannya seperti baru dari mal. Modis.
Saya sampai penasaran ingin lihat yang namanya polisi seperti apa. Karena bahkan saat saya datang ke kantor kepolisian untuk mengurus ijin tinggal, tak ada petugas berseragam. Semua dilayani petugas yang tampak seperti (atau memang) warga sipil. Berbusana dan bergaya kasual. Dan semua urusan beres dalam hitungan menit. Sangat profesional.
Untuk urusan yang terakhir ini, saya hanya mampu membayangkan, kapan negara saya bisa seperti ini ya? ![]()











